Langsung ke konten utama

Keutamaan menghidupkan sunnah

Keutamaan menghidupkan sunnah
Keluarga Dakwah - Keutamaan menghidupkan sunnah

Allah berfirman :

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah". Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. (QS. Ali Imran: 79)

Jadilah ahli hikmah, fakih dan alim terhadap wahyu Allah yang kalian ajarkan kepada orang lain. Kemudian hafal, ketahui dan pahami tentang apa yang kalian pelajari dari wahyu tersebut.
Hadits

Jarir ra berkata, "Ketika kami berada di dekat Rasulullah pada permulaan siang datanglah sekelompok orang bertelanjang kaki, berjubah dan menyandang pedang. Mereka dari Bani Mudhar. Wajah Rasulullah berkerut karena melihat kefakiran mereka. Beliau masuk dan keluar kemudian memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan azan dan iqamah. Beliau lalu shalat dan berkhotbah kepada manusia :

"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabbmu yang telah menciptakan kami dari seorang diri; dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya, Allah selalu menjaga dan mengawasi kami." (An-Nisa : 1)

Dan sebuah ayat dalam surat Al-Hasyr, "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Hasyr :18)

Kemudian, seseorang bersekah dari dinarnya, dirhamnya, pakaiannya, satu sha' gandumnya, satu sha' kurmanya (sampai beliau bersabda), "Meskipun sekerat kutma."

Jarir mengatakan, "Kemudian, datanglah seseorang dari Anshar membawa pundi-pundi yang tangannya tidak kuat mengangkatnya." Jarir melanjutkan, "Orang-orang kemudian mengikutinya sampai aku melihat dua gungungan makanan dan pakaian. Saya melihat wajah Rasulullah berseri-seri. Rasulullah pun bersabda :

"Barangsiapa memelopori sunah yang baik di dalam (ajaran) Islam maka baginya pahalanya sendiri dan pahala orang yang mengerjakan setelahnya; tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun . Barang siapa memelopori sunah yang buruk dalam (ajaran) Islam maka baginya dosanya sendiri dan dosa orang-orang yang mengerjakan setelahnya. Tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun."
 

Hadits

Abdurrahman bin Amr As-Sulami dan Hujr Al-Kala'i berkata, "Kami menemui Irbadh bin Sariyah (ia termasuk orang dimaksud dalam ayat, "Tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata, 'Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu. 'Mereka lalu kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan." (At-Taubah : 92)

Kami mengucapkan salam kepadanya dan memberitahukan, 'Maksud kedatangan kami untuk berziarah dan mengutip (hadits).'Irbadh berkata ,'Pada suatu hari kami shalat subuh bersama Rasulullah. Beliau kemudian menghadap kepada kami dan memberi nasihat yang sangat berkesan. Nasihat itu membuat mata berlinang air mata dan hati bergetar. Kemudian, ada yang bertanya, 'Wahai Rasulullah, seakan-akan nasihat ini yang terakhir. Apa yang baginda pesankan kepada kami?' Beliau bersabda, 'Aku warsiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah; mendengar dan taat meskipun kepada hamba sahaya dari Habbasyah dan keriting. Ketahuilah, barang siapa di antara kalian yang masih hidup maka akan melihat banyak perselisihan. Hendaknya kalian berpegang teguh kepada sunahku dan sunah khulafa' rasyidin yang mendapat petunjuk. Pegang eratlah ia dan gigit dengan gigi geraham. Jauhilah perkara-perkara (dalam agama) yang baru. Sebab, setiap perkara yang baru adalah bid'ah dan setiah bid'ah itu sesat.'"


Keutamaah menghidupkan sunnah

? Barang siapa memelopori sunnah kebaikan maka baginya pahalanya sendiri dan pahala orang yang mengerjakan setelahnya.

? Barang siapa berpegang teguh pada sunnah niscaya akan selamat dari perselisihan dan fitnah.

? Selamat dari kesesatan karena setiap yang menyelisihi sunnah adalah bid'ah.

SERI KAJIAN SHAHIH FADHILAH AMAL#17

Shahih Fadhillah Amal, Syaikh Ali bin Nayif Asy-Syuhud, hal 71 - 74. Aqwam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)