Langsung ke konten utama

Keutamaan Hijrah dan Jihad Fi sabilillah

Keutamaan Hijrah dan Jihad Fi sabilillah
Keutamaan Hijrah dan Jihad Fi sabilillah

Allah ta'ala berfirman

الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُمْ بِرَحْمَةٍ مِنْهُ وَرِضْوَانٍ وَجَنَّاتٍ لَهُمْ فِيهَا نَعِيمٌ مُقِيمٌ
خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

"Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari pada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." (QS. At-Taubah: 20 - 22)

Orang-orang yang beriman kepada Allah kemudian meninggalkan negeri kafir menuju negeri islam serta mengorbankan harta dan jiwanya dalam berjihad untuk meninggikan kalimat Allah, mereka itulah yang paling agung derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang beruntung yang mendapatkan ridha-Nya.

Orang-orang yang beriman dan berhijrah akan mendapat kabar gembira dari Rabb-Nya berupa rahmat yang luas dan keridhaan. Tempat kembali mereka adalah syurga dengan kenikmatan yang abadi.

Allah ta'ala berfirman

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia." (Al-Anfal: 74)

Orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan meninggalkan negeri mereka menuju negeri islam atau negara yang memungkinkan mereka beribadah kepada Allah, berjihad untuk meninggikan kalimat Allah, serta orang-orang yang menolong, memberi tempat tinggal dan memberi pertolongan dengan harta dan dukungan kepada saudara-saudaranya yang berhijrah, mereka itu adalah orang-orang beriman yang benar-benar jujur. Bagi mereka ampunan atas dosa-dosanya dan rezeki yang mulia dan banyak di surga yang penuh nikmat.

Hadits

Katsir bin Murrah meriwayatkan bahwa Abu Fathimah mengatakan kepada mereka. Ia berkata, "Wahai Rasulullah, beritahukan kepada kami suatu amal yang kami harus istiqomah diatasnya dan mengamalkannya?" Beliau bersabda, "Berhijrahlah, karena ia tiada tandingannya."

ia berkata, "Wahai Rasulullah, Beritahukan kepada kami suatu amal yang kami harus istiqomah di atasnya dan mengamalkannya?" Beliau bersabda, "Berjihadlah, kerena itu tiada tandingannya."

Ia berkata, "Wahai Rasulullah, beritahukan kepada kami suatu amal yang kami harus istiqomah di atasnya dan mengamalkannya?" Beliau bersabda, "Berpuasalah, karena ia tidak ada tandingannya."

ia berkata, "Wahai Rasulullah, Beritahukan kepada kami suatu amal yang kami harus istiqomah di atasnya dan mengamalkannya?" Beliau bersabda, "Bersujudlah kepada Allah . Sebab tidaklah engkau sujud kepada Allah satu kali melainkan Allah akan mengangkatmu satu derajat dan menghapus satu dosa darimu." (HR. At-Tabrani no 18257)

KEUTAMAAN HIJRAH SEKALIGUS JIHAD FI SABILILLAH


Memiliki derajat yang sangat tinggi di sisi Allah

Mendapat kabar gembira dari rabb-nya berupa rahmat yang luas dan keridhaan-Nya

Mendapatkan ampunan atas dosa-dosanya sekaligus rezeki yang mulia dan banyak di surga yang penuh nikmat.

Jihad adalah amal yang tiada bandingannya.

(SHAHIH FADHILAH AMAL, Syaikh Ali bin Nayif Asy-Syuhud. Halaman 86 - 88. Penerbit Aqwam.Aqwam)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)