Langsung ke konten utama

Keutamaan Hijrah

Keutamaan Hijrah
Keutamaan Hijrah

Allah ta'ala berfirman

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.(QS. At-Taubah: 100)

Orang-orang yang pertama kali beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dari kamu Muhajirin pergi meninggalkan kaum dan keluarga mereka kemudian berpindah kenegeri islam. Begitu juga dengan kaum anshar (kaum inilah yang menolong Rasulullah dari musuhnya dan orang-orang kafir). Serta orang-orang yang mengikuti mereka dalam keyakinan, perkataan, dan perbuatan demi mencari ridha Allah. Mereka itulah orang-orang yang diridhai Allah. Ini kerena ketaatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka pun ridha kepada-Nya karena diberi limpahan pahala atas ketaatan dan keiman mereka. Allah menyiapkan bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. itulah kemenangan yang agung.

Ayat ini mengandung rekomendasi, penetapan dan pujian untuk para sahabat Radhiallahu 'anhum. Karenanya, menghormati mereka termasuk pondasi keimanan.

Allah ta'ala berfirman

وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisa': 100)

Barang siapa keluar dari negeri yang dipenuhi kesyirikan menuju negeri islam demi menyelamatkan agamanya, Mengharap karunia Rabb-Nya, dan bermaksud menolong agamanya, mengharap karunia Rabb-nya, dan bermaksud menolong agama-Nya maka di negeri itulah ia akan mendapatkan tempat tinggal dan kenikmatan. Hal itu akan menjadi sebab kekuatannya dan kehinaan bagi musuhnya. di tempat tersebut ia juga mendapatkan kelapangan rezeki.

Barang siapa keluar dengan maksud menolong agama Allah dan Rasul-Nya, meninggikan kalimat Allah, kemudian ia mati sebelum tercapai maksudnya maka pahala amalnya sudah dicatat di sisi Allah. Ini sebagai karunia dan kebaikan dari-Nya. Ketahuilah, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.

Hadits

Ummar bin Khatab meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya amal itu tergantung niat. Setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Barang siapa yang hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya untuk dunia (harta) yang dicari atau perempuan yang akan ia nikahi maka hijrahnya kepada apa yang ia tuju."

KEUTAMAAN HIJRAH DI JALAN ALLAH

Mendapatkan keridhaan Allah, pahala-Nya dan disiapkan baginya surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.

Mendapatkan tempat tinggal yang baik dan kenikmatan

Orang yang pergi dengan maksud menolong agama Allah pahalanya sudah tercatat di sisi Allah meskipun ia mati sebelum maksudnya tercapai

Mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya

SERI KAJIAN SHAHIH FADHILAH AMAL # 19

(SHAHIH FADHILAH AMAL, Syaikh Ali bin Nayif Asy-Syuhud. Halaman 84 - 86. Penerbit Aqwam)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)