Langsung ke konten utama

Keutamaan Menyerukan Kebaikan dan Hidayah

Keutamaan Menyerukan Kebaikan dan Hidayah
Kelurga Dakwah - Keutamaan Menyerukan Kebaikan dan Hidayah

Allah ta'ala berfirman:

وَالْعَصْرِ
إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Manusia dan keturunannya itu pasti akan merugi dalam amal perbuatan mereka, kecuali orang-orang yang menyakini keberadaan Allah dan keesaan-Nya secara benar. Mereka juga meyakini kitab-kitab yang Allah tirunkan kepada para Rasul mulia. Mereka kemudian melaksanakan amal shaleh yang diridhoi Allah serta menjauhi apa-apa yang diharamkan Allah. Selain itu, diantara mereka saling berwasiat dengan kesabaran untuk tidak bermaksiat (yang dirasa ringan oleh jiwa yang lemah) dan kesabaran untuk melaksanakan ketaatan (yang dirasa berat dalam melaksanakannya oleh jiwa yang kuat) Mereka itu adalah orang-orang yang beruntung dan menang.



Hadits 

Abu Hurairoh Radhiallahu 'anhu bahwa Rasulullah bersabda, "Barang siapa yang menyeru pada hidayah maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya. Hal itu tidak mengurangi sedikitpun pahala mereka. Barang siapa menyeru pada kesesatan maka baginya dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya. Hal itu tidak mengurangi sedikitpun dosa mereka. (HR. Muslim no 2674)



Hadits

Abu Mas'ud Al-Anshari Radhiallahu 'anhu meriwayatkan, " Ada seseorang laki-laki datang kepada Rasulullah, "Sesungguhnya, aku ditelantarkan, tanggunglah aku." Beliau bersabda, "Aku tidak bisa." Ada seseorang yang menawarkan, "Wahai Rasulullah, aku akan menunjukannya pada orang yang bisa menanggungnya." Rasulullah kemudian bersabda, "Barang siapa menunjukan pada kebaikan maka baginya pahala seperti pahala orang yang melakukannya." (HR. Muslim no 1893)



KEUTAMAAN MENYERUKAN KEBAIKAN DAN HIDAYAH

?Orang yang menyerukan kebaikan adalah orang yang beruntungdan tidak bakal rugi.

?Mendapatkan pahala seperti orang yang mengikutinya.



SERI KAJIAN SHAHIH FADHILAH AMAL # 11

(SHAHIH FADHILAH AMAL, Syaikh Ali bin Nayif Asy-Syuhud.

Halaman 54 -55. Penerbit Aqwam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)