Langsung ke konten utama

Perbaiki Niat dan Raih Impian

Perbaiki Niat dan Raih Impian
Keluarga Dakwah - Perbaiki Niat dan Raih Impian

Ketika menjalani kehidupan ibadah ini perkara  penting yang harus diperhatikan adalah bagaimana seorang hamba mampu memperbaiki niatan hidupnya, niatan untuk meraih impian, menjalani berbagai aktivitas dan kegitan.

Karena dengan benarnya niat, seseorang akan mampu dan mudah meraih impian dan mencapai berbagai target yang diinginkan. Ketika seseorang memiliki impian untuk menjadi seorang alim yang bermanfaat bagi umat, maka perkara pertama yang harus dia cek dan perhatikan adalah tentang niatnya. Saat belajar dia harus membersihkan niatnya dan memperbagus usahanya. Ketika seseorang hendak meraih impian untuk bertemu Allah di barisan syuhada’ (orang-orang mati syahid) maka niatannyalah yang menentukan tercapai atau tidaknya hal itu.

Marilah perhatikan sabda Rasulullah yang terdapat dalam sebuah riwayat,

عن شداد بن الهاد أن رجلا من الأعراب جاء إلى النبي صلى الله عليه وسلم فآمن به واتبعه ثم قال أهاجر معك فأوصى به النبي صلى الله عليه وسلم بعض أصحابه فلما كانت غزوة غنم النبي صلى الله عليه وسلم سبيا فقسم وقسم له فأعطى أصحابه ما قسم له وكان يرعى ظهرهم فلما جاء دفعوه إليه فقال ما هذا قالوا قسم قسمه لك النبي صلى الله عليه وسلم فأخذه فجاء به إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال ما هذا قال قسمته لك  قال ما على هذا اتبعتك ولكني اتبعتك على أن أرمى إلى هاهنا وأشار إلى حلقه بسهم فأموت فأدخل الجنة فقال إن تصدق الله يصدقك فلبثوا قليلا ثم نهضوا في قتال العدو فأتي به النبي صلى الله عليه وسلم يحمل قد أصابه سهم حيث أشار فقال النبي صلى الله عليه وسلم أهو هو قالوا نعم قال صدق الله فصدقه ثم كفنه النبي صلى الله عليه وسلم في جبة النبي صلى الله عليه وسلم ثم قدمه فصلى عليه فكان فيما ظهر من صلاته اللهم هذا عبدك خرج مهاجرا في سبيلك فقتل شهيدا أنا شهيد على ذلك


Dari sahabat Syaddad bin Haad ia menceritakan bahwa orang Arab Badui datang menemui Nabi saw untuk mengucapkan syahadat, mengikuti beliau, dan berkata “Aku ingin berhijrah bersamamu.” Maka Rasulullah berpesan kepada beberapa sahabatnya (untuk membawanya hijrah). Pada suatu peperangan Nabi memperoleh ghanimah, saat pembagian ghanimah dan orang badui itu pun mendapat bagian.  Ketika para sahabat membawakan harta ghanimah itu kepadanya, ia bertanya: “Apa ini?” ini adalah bagian yang Nabi berikan kepadamu, Jawab para sahabat. Maka ia membawanya  menghadap Nabi dan bertanya, “Apa ini?” Beliau menjawab: “Bagian dariku untukmu.” Orang Badui itu pun berkata, “Bukan karena ini aku mengikutimu, akan tetapi aku mengikutimu agar aku mati dengan sebatang panah menembus leherku (sambil menunjuk lehernya) sehingga aku bisa masuk Jannah.” Rasulullah bersabda, “Jika niatmu benar karena Allah, niscaya Allah akan mewujudkan niatanmu.”

Berlalulah beberapa saat, hingga pada suatu peperangan orang badui itu gugur dengan tutusan panah tepat di lehernya, dan dibawa ke hadapan Nabi, dan beliau bertanya, “Apakah dia orang yang berkata, ‘bukan karena ini aku mengikutimu…’ para sahabat menjawab, ‘Iya’ Maha Benar Allah dan Allah telah membenarkan niatnya. Kemudian Nabi mengkafaninya menggunakan jubah beliau dan menshalatkannya, salah satu do’a yang beliau panjatkan adalah, “Ya Allah, ini adalah hamba-Mu, ia berhijrah di jalan-Mu, lalu ia terbunuh sedang aku menjadi saksinya.” (HR. Nasa’i )

Masyallah… betapa dahsyat dan besarnya kekuatan niat sehingga mampu mewujudkan sebuah impian. Tidak jarang kita mendengar kisah seputar hal ini, salah satunya adalah kisah yang ada di kampung halaman saya, tentang seorang wanita yang telah sepuh, memiliki niatan besar untuk ibadah haji, namun usaha sehari-harinya adalah jualan pisang keliling kampung, satu persatu rumah dia ketuk untuk menawarkan barang jualannya. Ketika ibu itu menawarkan jualannya di rumahku, ibuku bertanya kepadanya, “Mbok, mengapa njenengan tidak istirahat saja karena sudah tua, biar anak-anakmu yang mencari nafkah, namun apa jawaban ibu itu? “Aku ingin naik haji jeng.” Jika dilihat dari usaha sehari-hari ibu itu, sangat jauh dan lama baginya mewujudkan impiannya. Namun karena benarnya niatan si mbok Allah mewujudkan impiannya. Hingga pada suatu ketika ada seorang dermawan yang menemuinya dan melengkapi uang tabungannya untuk naik haji. Masyallah…

Maka saya ingin menekankan sabda Rasulullah, “In tashduqillaha yashduqka.” Jika niatmu benar karena Allah, niscaya Allah akan mewujudkan niatanmu.

Terhadap masalah apapun dalam kehidupan dunia ini kehadiran niatan yang benar dan jujur sangat penting, ketika menuntut ilmu perbaikilah niatan, ketika berdakwah perbaikilah niatan, ketika berjihad perbaikilah niatan, ketika mencari ma’isyah maka perbaikilah niatan. Semoga dengan benar dan jujurnya niatan kita Allah mengabulkan dan mewujudkan impian menjadi kenyataan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)