Langsung ke konten utama

Itu Adalah Karunia Allah

Keluarga Dakwah - Kecukupan dan tingginya kelas ekonomi keluarga adalah karunia yang Allah Ta’ala berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Suami-istri bijak akan menggunakan nikmat ini dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala, memperbaiki kualitas pangan, papan, kesehatan, pendidikan maupun perkara-perkara penting lain yang dapat menyokong langgengnya keluarga. Di samping untuk sedekah, dana sosial, dan membantu kaum muslimin lainnya.

Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai kecukupan harta ini berakibat menyelisihi perintah Allah, membuat keluarga berantakan, dan pertikaian satu sama lain. Allah Ta’ala berfirman:

“Makanlah di antara rezeki yang baik yang telah kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kamurkaan-Ku menimpamu. Dan barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia,” (Thaha [20] : 81)

“Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Ssungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash [28] : 77)

Rasulullah SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM bersabda:

“Sesungguhnya Allah jika memberikan suatu nikmat kepada seorang hamba, Dia suka melihat tanda kenikmatan itu. Dia membenci fakir dan berpura-pura fakir. Dia juga murka terhadap peminta-minta yang memaksa, serta mencintai seorang pemalu yang menjaga diri dan berusaha menjaga diri dari meminta-minta.” (Shahih Al-Jami’)

Rasulullah SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM bersabda:

“Sebaik-baik harta yang shalih (halal) adalah milik seorang yang shalih.” (Hadist shahih, Bulughul Maram)

Rasulullah SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM bersabda:

“Sesungguhnya orang-orang yang mempermainkan harta Allah pada jalan yang tidak benar, niscaya bagi mereka neraka pada hari kiamat,” (Shahih Al-Bukhori)

Perempuan juga termasuk dalam ancaman hadist ini.

Rasulullah SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM bersabda:

“Wahai manusia, sesungguhnya kaya itu bukan dengan banyaknya harta, kaya itu kaya hati. Dan sesungguhnya Allah menyempurnakan rezeki yang telah ditetapkan bagi seorang hamba, maka baiklah dalam meminta. Ambillah yang halal dan tinggalkanlah yang haram.” (Shahih Al-Jami’)

(Dirangkum dari 99 Tips Rumah Tangga Bahagia, Dr. Musyabbab bin Fahd Al-Ashimi)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)