Langsung ke konten utama

Orangtua Bermasalah, Pendidikan Anak Susah

Keluarga Dakwah - Saat anak nakal dan sulit diatur, tidak sedikit orang tua yang berusaha mencari kambing hitam. Teman, lingkungan, sekolah dan lain sebagainya. Padahal yang paling bertanggungjawab atas segala perubahan anak adalah orang tua. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam mengingatkan,

“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه“

“Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Banyak permasalahan anak justru penyebabnya adalah dari orang tua anak itu sendiri.

Ada orang tua yang terlalu keras pada anak. Sehingga anak menjadi keras dan memberontak. Menerapkan pendidikan disiplin pada anak, tidaklah sama dengan sikap otoriter pada anak.

Tapi ada juga yang terlalu memanjakan, sehingga anak menyepelekan orang tuanya. Lembut kepada anak itu wajib. Tapi lembek tidak boleh. Menuruti apapun yang diminta anak itu sikap lembek.

Sebagian orang tua juga kurang peduli, atau terlalu sibuk dengan urusannya. Sehingga anak merasa tidak diperhatikan. Pagi buta saat anaknya masih tertidur, mereka telah berangkat meninggalkan rumah. Setelah larut malam mereka baru tiba di rumah. Para orang tua ini jauh lebih sering bertemu dengan rekan kerjanya, ketimbang dengan anaknya sendiri.

Ada juga yang hubungan kedua orang tuanya kurang harmonis, bahkan hingga berpisah. Sehingga anak pun menjadi korban.

Dari sini kita bisa memahami betapa vitalnya peran orang tua dalam pendidikan anak. Mereka tidak boleh menumpukan semua beban pendidikan anak pada sekolah saja. Melainkan mereka juga harus terlibat aktif di dalamnya.

Tugas Orang Tua

Di dunia ini, satu-satunya pekerjaan paling menantang dan tidak dibayar, bahkan jarang mendapatkan penghargaan, adalah menjadi orang tua.

Tugas orang tua tidak berhenti setelah menyediakan sandang, pangan dan papan. Justru anak-anak membutuhkan kehadiran orang tua seutuhnya, lahir dan batin. Mereka dituntut 24 jam sehari dalam seminggu untuk menjadi pencari nafkah, guru, juru masak, baby siter, juru damai, perawat, motivator, bodyguard, dan profesi-profesi lainnya.

Kalaupun di dunia orang tua tidak menerima imbalan apa pun, di akhirat beda cerita. Anak salih akan menjadi sebuah investasi yang sangat berharga. Dengan doa-doa tulusnya, bisa mengangkat derajat orang tua di surga, insyaAllah.

Sekolah Orang Tua

Menjadi orang tua memang tidak ada sekolah formalnya. Padahal, menjadi orang tua ibarat mengarungi samudra yang sangat luas. Betapa tidak, mulai dari proses kehamilan, melahirkan dan tumbuh kembang anak, orang tua terlibat langsung. Kompleksnya permasalahan menjadi orang tua, ternyata tidak diimbangi dengan banyaknya ilmu pengetahuan yang dimiliki orang tua.

Maka, para orang tua berkewajiban untuk terus belajar. Baik dengan menghadiri kajian atau pelatihan tentang pendidikan anak. Serta membaca buku-buku bermutu bertemakan hal tersebut.

Setelah itu, bertahaplah untuk menerapkan ilmu yang didapatkan secara konsisten.

Bila menghadapi kendala, jangan segan untuk berkonsultasi dengan para ahli di bidangnya.

Berbagai upaya pendidikan yang dilakukan adakalanya belum membuahkan hasil yang diharapkan. Karena itu jangan lelah menengadahkan tangan seraya memanjatkan doa ke hadirat Allah Yang membolak-balikkan hati anak-anak kita. Kepada-Nya lah kita menggantungkan segala harapan.

Sumber : Pesantren Tunas Ilmu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

MELANGGAR KEHORMATAN TETANGGA ADALAH SALAH SATU DOSA YANG TERBESAR

  وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.   Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?ʼ Beliau menjawab, ‘Saat kamu menyekutukan Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.ʼ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.ʼ  Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?ʼ Beliau menjawab, ‘Berzina dengan istri tetanggamuʼ.” Muttafaqun ‘alaih (H.R. Al-Bukhari 4477 dan Muslim 86).

Punya anak istri, tapi gak mau nafkahin? Anda sehat,

  Itu bukan sekadar kelalaian, tapi dosa!  Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berada dalam tanggungannya." (HR. Abu Dawud, hasan: Shahih At-Targhib)  Menafkahi keluarga bukan soal kemampuan finansial semata, tapi soal tanggung jawab, keimanan, dan kelapangan hati.  Jangan sampai sibuk cari pahala, tapi lupa bahwa di rumah, ada amanah yang sedang Anda zalimi.   Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya di luar — tapi juga di rumah. (Rumahku surgaku)