Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2021

Menanamkan Keberanian Anak Melalui Siroh

Keluarga Dakwah - Menanamkan karakter berani dengan arahan dan bimbingan orang tua serta pendidik agar anak mampu memahaminya dengan bijak sehingga tidak melenceng dari konsep berani yang syar’i. Diantara kiat untuk memotivasi keberanian adalah dengan membiasakan menceritakan kisah-kisah ksatria pahlawan Islam agar anak-anak mencintai dan menjadikannya idola. Cerita dua anak Afra’ dalam perang Badar Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallaahu ‘anhu berkata menceritakan apa yang beliau lihat di perang Badar, “Aku sedang berada dalam salah satu barisan pasukan di perang Badar, ketika aku menoleh, aku mendapatkan di samping kanan dan kiriku anak-anak kecil, seakan-akan aku tidak menyadari keberadan mereka berdua hingga ketika salah satu dari mereka berkata kepadaku dengan sembunyi-sembunyi: “Wahai paman, tunjukkan kepadaku Abu Jahal” Aku menjawab: “Wahai keponakanku, apa yang akan kamu lakukan kepadanya?” Dia menjawab: “Aku telah berjanji kepada Allah jika aku melihatnya, aku akan membunuhnya atau...

Nadzar orang tua, Wajibkah di Tunaikan?

Keluarha Dakwah -  Nadzar orang tua, Wajibkah di Tunaikan? Pertanyaan Ustadz semasa hidupnya orang tua saya pernah bernadzar untuk mengerjakan sesuatu. Namun, sebelum orang tua saya merealisasikan nadzar yang pernah diucapkannya, Allah telah memanggilnya. Bolehkan saya melaksanakan nadzar yang telah diucapkankan oleh orang tua saya ? Jawaban Nadzar dibagi menjadi dua; mutlaq dan mu'allaq atau muqayyad. Nadzar muthlaq adalah semacam janji seseorang pada diri sendiri untuk melakukan sesuatu tanpa dikaitkan dengan apapun. Misalnya, “Saya akan bersedakah dengan sepertiga uang saya”. Sedang nadzar muallaq adalah nadzar yang dikaitkan dengan sesuatu. Misalnya, “Saya akan memberi makan fakir miskin jika disembuhkan dari penyakit ini.” Jika yang dinazdarkan, baik yang muallaq maupun yang muthlaq, adalah sesuatu yang baik, maka nadzar tersebut wajib dilaksanakan. Tapi jika berupa kemaksiatan harus ditinggalkan. Dalam sebuah riwayat disebutkan : عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا عَنْ الن...

Teruntuk Menantuku

Keluarga Dakwah - Duhai gadis yang baru ku kenal. Tahukah kau, dia putraku, lahir dari rahim suciku, kupertaruhkan hidupku untuk memilikinya, anak kesayanganku yang sepanjang hidupnya ku besarkan dengan segenap rasa cintaku.. Tangan renta ini yang mengangkat tubuh mungilnya, menyuapinya, menyeka air matanya, dan memeluknya dalam dekapanku… Duhai gadis, tahukah kau betapa besar rasa cintaku padanya? Bahkan aku tak mampu membayangkan bila ada yang merebutnya dari dekapku.. Tahukah kau gadis? Betapa bangga ku rasakan ketika dia mulai beranjak dewasa? Menatap tumbuh menjadi lelaki tegap dan tampan… Seulas senyumnya mengingatkanku pada senyuman ayahnya yang sangat ku cinta… Betapa hati ini terus diliputi rasa bangga dan buncahan cinta padanya.. Kebangganku.. Putraku.. Berbagai prestasi dia ukir dan memahatny bangga tak terperi dalam lubang rasaku.. Dan ku slalu mrasa puas menyebutnya putraku.. Tak sedikitpun dia pernah mengecewakanku.. Tak pernah… Gadis, tahukah kau, betapa haru hatiku, ket...

Ketika Menasehati Suami Tapi Mendapatkan Dosa

Kelaurga Dakwah - Prof. Dr. Sulaeman bin Hamad al Audah, dalam bukunya Al-Mar-atu  wad Da’watu fii ‘Ashari an Nubuwwah (2014) menuliskan: “Dalam masalah dakwah wanita terhadap suaminya terdapat pelajaran yang dapat diambil dan petunjuk Nabawi yang dapat diteladani. Maka di samping upaya dakwah seorang wanita terhadap suaminya yang mengajak kepada kebaikan, maka tidak seyogyanya dakwah ini diiringi dengan sesuatu yang dapat menimbulkan emosi suami, yang mengakibatkan marah dan mencelanya sehingga perkara yang ma’ruf berubah menjadi mungkar, atau bahkan mendapatkan dosa bukan pahala. Marahnya suami merupakan sesuatu  yang besar,  sedangkan tujuan dakwah adalah mewujudkan kebaikan dan menegaskan perkara yang ma’ruf. Sedangkan pertikaian antara suami istri apalagi jikalau hal itu mengakibatkan cerai diantara keduanya adalah dari perbuatan syaithan dan sedangkan dakwah harus dilakukan dengan hikmah dan nasihat yang baik. Perkara itu yang mesti diwaspadai oleh seorang wanita ba...

Istri Dambaan Suami

Keluarga Dakwah - Fatimah anakku, maukah engkau menjadi seorang perempuan yang baik budi dan istri yang dicintai suami? Tanya sang ayah yang tak lain adalah Rasulullah Muhammad saw. “Tentu saja wahai ayahku!” jawab Fatimah. “Tidak jauh dari rumah ini berdiam seorang perempuan yang sangat baik budi pekertinya. Namanya Siti Muthi’ah. Temuilah dia, teladani budi pekertinya yang baik itu.” Gerangan amal apakah yang dilakukan situ Muthi’ah sehingga Rasululah memujinya sebagai wanita teladan? Maka Fatimah menuju rumah Muthi’ah dengan mengajak serta Hasan putra Fatimah yang masih kecil itu. Begitu gembiranya Muthi’ah mengetahui tamuanya adalah putri Rasulullah. “Wah bahagia sekali aku menyambut kedatanganmu, Fatimah. Namun maafkan aku sahabatku, suamiku telah beramanat, aku tidak boleh menerima tamu laki-laki di rumah ini. “Ini Hasan putraku sendiri. Ia kan masih anak-anak,” kata Fatimah sambil tersenyum. “Namun sekali lagi maafkanlah aku! Aku tidak ingin mengecewakan suamiku, wahai Fatimah.”...

Taatmu Pada Suami adalah Surgamu

Keluarga Dakwah - Keutamaan istri yang taat pada suami adalah akan dijamin masuk surga. Ini menunjukkan kewajiban besar istri pada suami adalah mentaati perintahnya. Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتِ الْجَنَّةَ “Wanita mana saja yang meninggal dunia lantas suaminya ridha padanya, maka ia akan masuk surga.” (HR. Tirmidzi no. 1161 dan Ibnu Majah no. 1854. Abu Isa Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Yang dimaksudkan dengan hadits di atas adalah jika seorang wanita beriman itu meninggal dunia lantas ia benar-benar memperhatikan kewajiban terhadap suaminya sampai suami tersebut ridha dengannya, maka ia dijamin masuk surga. Bisa juga makna hadits tersebut adalah adanya pengampunan dosa atau Allah meridhainya. (Lihat Nuzhatul Muttaqin karya Prof. Dr. Musthofa Al Bugho, hal. 149). Begi...

Introspeksi Diri

Keluarga Dakwah - Introspeksi Diri Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “يبصر أحدكم القذى في عين أخيه، وينسى الجِذْعَ في عينه” Artinya : “Terkadang diantara kalian itu bisa melihat kotoran kecil di mata saudaranya, Namun(sangat di sayangkan, pent) dia lupa akan batang pohon di depan matanya(kotoran yg lebih besar di matanya) ” Berkata Penyair Arab: Sungguh buruk perangai seorang Insan, lupa akan kekurangannya, Namun selalu ingat akan kekurangan saudaranya yang tertanam, Kalaulah ia berakal, tentu tidak akan merendahkan orang lain dengan suatu kekurangan, Sedangkan pada dirinya banyak kekurangan, Andainya ia berpikir, sungguh telah cukup. Begitu juga halnya dalam kehidupan rumah tangga. Kalaulah kita mau jujur, Maka sungguh kebaikan atau kesempurnaan istri kita itu mungkin lebih banyak dari kekurangan atau kekhilafahannya. Dan andainya seorang suami inshaf dalam menilai dirinya, niscaya dia akan mendapatkan kekurangan dan khilafahannya tidak kalah banyak atau sering ketimbang keku...

Kesuksesan Setan Ketika Berhasil Memisahkan Suami-Istri

Keluarga Dakwah - Terdapat hadits bahwa Iblis memuji setan yang berhasil menceraikan suami-istri, sedangkan setan lainya telah melakukan sesuatu tetapi Iblis  tidak mengapresiasi hasilnya. Dari Jabir radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُوْلُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ نِعْمَ أَنْتَ “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu”. Iblis berkata, “Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatupun”. Kemudian datang yang lai...

Memprovokasi Agar Menceraikan Istrinya

Keluarga Dakwah - Tidak boleh seorang wanita memprovokasi seorang lelaki beristri untuk menceraikan istrinya. Ini perkara yang telah diperingatkan oleh Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: لا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تَسْأَلُ طَلاقَ أُخْتِها، لِتَسْتَفْرِغَ صَحْفَتَها، فإنَّما لها ما قُدِّرَ لَها “Tidak halal seorang wanita menuntut suaminya untuk menceraikan saudarinya (madunya), untuk mengosongkan piringnya. Karena bagi dia sudah ada rezeki tersendiri yang ditetapkan oleh Allah” (HR. Bukhari no. 5152, Muslim no.1408). Dalam riwayat lain: ولا تَسْأَلُ المَرْأَةُ طَلاقَ أُخْتِها لِتَكْتَفِئَ صَحْفَتَها ولْتَنْكِحْ، فإنَّما لها ما كَتَبَ اللَّهُ لَها “Tidak boleh seorang wanita menuntut seorang suami untuk menceraikan saudarinya (madunya), untuk mencukupi piringnya. Hendaknya ia tetap menikah. Karena sesungguhnya Allah sudah tetapkan rezeki kepadanya” (HR. Muslim no.1408). Dalam riwayat lain: وَلَا تَسْأَلِ المَرْ...

Pergaulan yang Baik dalam Rumah

  Keluarga Dakwah - Pergaulan yang Baik dalam Rumah Dari Aisyah radhiyallah ‘anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika Allah ‘Azza Wa Jalla menghendaki kebaikan kepada suatu keluarga maka Ia menganugerahkan atas mereka pergaulan yang baik”. Dalam riwayat lain disebutkan: “Sesungguhnya Allah jika mencintai suatu keluarga maka Ia anugerahkan atas mereka pergaulan yang baik”. Artinya masing-masing mempergauli yang lain dengan baik. Inilah salah satu sebab kebahagiaan di rumah. Pergaulan yang baik dan keramah-tamahan adalah sangat bermanfaat antara kedua suami isteri, juga dengan anak-anak, yang daripadanya akan melahirkan hasil yang tak mungkin dihasilkan oleh kekerasan. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya Allah mencintai pergaulan yang baik (keramahan), dan Ia memberikan kepada pergaulan yang baik (keramahan) apa yang tidak diberikanNya kepada kekerasan dan apa yang tidak diberikan kepada selainnya”. Sumber: Mempe...