Langsung ke konten utama

JKD Qur'anic Course

 


JKD Qur'anic Course - TAHSIN 1 MAKHARIJUL HURUF

Alhamdulillaah JKD Qur'anic Course telah dilaksanakan pada hari Ahad, 15 Agustus 2021 lalu. Dengan pembagian waktu antara ikhwan dan akhwat. Peserta ikhwan di pagi hari antara pukul 09.00-11.00 WIB. Adapun peserta akhwat di siang hari antara pukul 13.00-15.00 WIB. 

JKD Qur'anic Course kali ini membahas Makhorijul Huruf. Dalam pembahasan makhorijul huruf dijelaskan tempat keluarnya huruf, seperti Al-Jauf (rongga mulut), Al-Halqu (tenggorokan), Al-Lisan (lidah), Al-Syafatain (dua bibir), dan Al-Khaisyum (pangkal hidung). 

Pemateri program ini adalah Ust. Dani Abdul Karim, M.Pd.I. Al-Hafidz.  Beliau memiliki sanad, di antaranya Hafs An Ashim Thariqoh Syatibiyah yang merupakan macam qiroah (cara baca Al-Qur'an) yang digunakan mayoritas di Indonesia. 

Awalnya Ust. Dani menjelaskan tempat keluarnya huruf. Kemudian dilanjutkan para peserta membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas. Bila ada yang perlu diperbaiki, ust Dani kemudian memberi koreksi. Alhamdulillaah peserta bersemangat mengikuti dan mempraktekannya. 

JKD Jakarta mengucapkan "jazaakumullaahu khoiron" kepada anggota JKD dan para donatur yang telah ikut serta baik sebagai peserta maupun memberi dukungan dalam bentuk dana. 

Bagi yang ingin memberikan dukungan dalam bentuk dana, kami mempersilahkan mentransfer ke 

BSI - BSM 711 342 4499

an. Yayasan Keluarga Dakwah QQ Infaq

Mohon tambahkan 200 di tiga digit akhir dari jumlah transfer.

Konfirmasi Transfer:

081318446713

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

Sebelum Menyesal Karena Salah Pilih Suami

Urusan jodoh memang urusan Allah, jika sudah ditakdirkan maka kita tak kuasa untuk mengubahnya. Tetapi sebelum kita berjodoh dengan seseorang, kita sama sekali tak tahu siapa jodoh kita. Oleh karena itu, kewajiban kita adalah ikhtiar dan berusaha mencari jodoh sebaik mungkin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, اعْمَلُوا، فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ “Beramallah kalian, karena masing-masing dimudahkan (untuk melakukan sesuatu yang telah ditakdirkan untuknya).” (HR. Muslim no. 2648) Tak sedikit kami mendengar curahan hati para wanita muslimah yang merasa menyesal telah berjodoh dengan suaminya sekarang. Ungkapannya mungkin tidak tegas, tetapi sikapnya mencerminkan hal tersebut. Lelaki yang dulu terlihat sempurna ternyata menyimpan banyak cacat. Lelaki yang dulu diharap menjadi pelindung ternyata menjadi perundung. Sebelum menyesal, teliti terlebih dahulu sebelum menikah. Minta bantuan orang lain untuk menilai dan menyelidiki lelaki yang ingin dinikahi atau lelaki yang pantas dinikahi...

Esensi Tawadhu

Jalinan Keliarga Dakwah - Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam muslim Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan martabat manusia” Hadits tersebut memberi kita dua hal yang mendeskripsikan apa yang disebut sebagai kesombongan. Ketika seseorang memiliki salah satu dari dua hal tersebut, maka dia telah menjadi pribadi yang sombong. Di mana kepribadian tersebut tidak disukai oleh Allah ta'ala. Dalam menerima apa yang diyakini sebagai kebenaran, kita seringkali terfokus pada siapa yang menyampaikan. Sebelum mendengarkan paparannya, kita terlebih dahulu melihat siapa yang berbicara, bagaimana latar belakangnya, apa gelarnya, berapa usianya, dan pertimbangan-pertimbangan subjektif lainnya yang membuat kita “yakin” kepada sang pembicara. Sikap ini tidak sepenuhnya salah, namun seringkali “keyakinan” ini menjerumuskan kita kepada sebuah fanatisme. Di mana kita pada akhirnya berkesimpulan “pokokny...