Langsung ke konten utama

Menjadi Anak Idaman


Keluarga Dakwah -Menjadi Anak idaman

Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda :

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila seseorang telah meninggal maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara; shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholih yang mendoakan untuknya.

Sungguh istemawanya anak sholih itu. Hakikatnya dia menjadi tabungan akhirat bagi ayah dan ibunya.

Tidak dipungkiri bahwa memiliki anak yang berbakti adalah idaman setiap orang tua. Namun yang menjadi pertanyaan besar bagi kita adalah, sudah seberepakah pendidikan yang kita tanamkan pada anak kita untuk menjadi anak yang sholih dan sholihah? Sudahkah orang tua menjadi contoh dan panutan terbaik bagi anak-anaknya? Sudahkah kita berupaya menanamkan aqidah yang benar dalam lubuk sanubari hati anak kita?

Sering sekali para orang tua tertipu dengan merasa cukup bahwa pendidikan bagi mereka adalah pembekalan ketrampilan hidup (life skill). Mereka merasa puas dengan mengikut sertakan anaknya di berbagai lembaga bimbingan belajar yang ternyata itu semuanya diniatkan agar anaknya besok di hari tuanya bisa menjadi kebanggaan yang dibanggakan di depan orang banyak. Maka apakah benar seperti ini? Kalau memang demikian caranya, lalu siapakah yang menjamin kalau anak kita sudah besar nanti akan bisa berbakti kepada kedua orang tuanya? Sementara materi-materi yang dijejalkan ke otak anaknya hanyalah muatan-muatan duniawi yang berujung pada cinta materi.

Jelas .., dan sudah pasti.. bahwa munculnya anak sholih dan pandai berbakti kepada orang tuanya bukan berasal dari model pendidikan seperti itu. Pendidikan yang menghasilkan anak-anak sholih dan berbakti kepada kedua orang tuanya adalah pendidikan yang menanamkan dominasi aqidah yang benar kepada anaknya. Karena Aqidah berperan penting dalam control perilaku seseorang.

Setidak-tidaknya dalam pengajaran anak-anak ada tiga ilmu yang harusnya diprioritaskan terlebih dahulu:

1. Al Quran

2. As sunnah

3. Al Faroidl

Inilah tiga rumpun ilmu yang hendaknya menjadi asupan pertama bagi anak kita. Sebagaimana yang telah menjadi tradisi ilmiyah oleh keluaraga para ulama. Dalam hal ini ayah dan ibunya yang paling berperang dalam menjadi guru, minimal di rumahnya. Wallahu a’lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

Sebelum Menyesal Karena Salah Pilih Suami

Urusan jodoh memang urusan Allah, jika sudah ditakdirkan maka kita tak kuasa untuk mengubahnya. Tetapi sebelum kita berjodoh dengan seseorang, kita sama sekali tak tahu siapa jodoh kita. Oleh karena itu, kewajiban kita adalah ikhtiar dan berusaha mencari jodoh sebaik mungkin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, اعْمَلُوا، فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ “Beramallah kalian, karena masing-masing dimudahkan (untuk melakukan sesuatu yang telah ditakdirkan untuknya).” (HR. Muslim no. 2648) Tak sedikit kami mendengar curahan hati para wanita muslimah yang merasa menyesal telah berjodoh dengan suaminya sekarang. Ungkapannya mungkin tidak tegas, tetapi sikapnya mencerminkan hal tersebut. Lelaki yang dulu terlihat sempurna ternyata menyimpan banyak cacat. Lelaki yang dulu diharap menjadi pelindung ternyata menjadi perundung. Sebelum menyesal, teliti terlebih dahulu sebelum menikah. Minta bantuan orang lain untuk menilai dan menyelidiki lelaki yang ingin dinikahi atau lelaki yang pantas dinikahi...

Esensi Tawadhu

Jalinan Keliarga Dakwah - Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam muslim Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan martabat manusia” Hadits tersebut memberi kita dua hal yang mendeskripsikan apa yang disebut sebagai kesombongan. Ketika seseorang memiliki salah satu dari dua hal tersebut, maka dia telah menjadi pribadi yang sombong. Di mana kepribadian tersebut tidak disukai oleh Allah ta'ala. Dalam menerima apa yang diyakini sebagai kebenaran, kita seringkali terfokus pada siapa yang menyampaikan. Sebelum mendengarkan paparannya, kita terlebih dahulu melihat siapa yang berbicara, bagaimana latar belakangnya, apa gelarnya, berapa usianya, dan pertimbangan-pertimbangan subjektif lainnya yang membuat kita “yakin” kepada sang pembicara. Sikap ini tidak sepenuhnya salah, namun seringkali “keyakinan” ini menjerumuskan kita kepada sebuah fanatisme. Di mana kita pada akhirnya berkesimpulan “pokokny...