Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2018

TRAINING PRA NIKAH JKD

Rumah tangga yang bahagia adalah dambaan setiap pasangan suami istri. Akan tetapi, Rumah tangga yang bahagia tentu tidak dapat terjadi tanpa adanya proses dan pembelajaran dari masing-masing pasangan. Hal ini dikarenakan kebahagiaan dalam rumah tanga bukanlah sebagai hasil yang tiba-tiba, melainkan tahapan yang membutuhkan jatuh bangunnya usaha. Pernikahan bukan sekedar lisan ucap i love you terus dibales laf you too tapi bagaimana menyatukan dua perbedaan dalam satu ikatan yang melihat kekurangan sebagai kesempatan dan kelebihan sebagai kekuatan Lalu saling mengisi seperti mata hari dan bulan dalam ruang kesolehan dan kasih sayang... Asli Indah banget ya? Seriusan mau dapat gak nih ilmunya? Yuk Ikuti! "TRAINING PRA NIKAH JKD" Paket Lengkap Training Pranikah Rp 250.000 Include : 5 Sesi, Sertifikat, Buku 99 Problematika Rumah Tangga Paket Per-Sesi Training Pranikah Rp 65.000/sesi Include : 1 Sesi dan Snack 🍀 TANGGAL, MATERI & NARASUMBER🍀 1⃣ ...

Esensi Ukhuwah

Seorang muslim dengan muslim lainnya adalah saudara. Begitulah yang difirmankan Allah SWT dalam surat Al Hujurat ayat 10: إ ِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara” Imam Al Qurthubi dalam kitabnya Aljaami’ li ahkaamil Qur’an menjelaskan makna إِخْوَةٌ pada ayat ini sebagai persaudaraan yang didasari agama serta kesucian, bukan berdasarkan nasab. Sehingga dapat disimpulkan bahwa persaudaraan karena agama lebih kokoh dibanding persaudaraan karena nasab. Persaudaraan atas dasar nasab bisa jadi terputus dikarenakan perbedaan agama, sedangkan persaudaraan atas dasar agama tidak akan terputus hanya sebab perbedaan nasab.   Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Sahabat Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian saling mendengki, dan jangan saling membenci, dan jangan saling memata-matai, dan jangan saling tahassus (mencari kejelekan), dan jangan pula kamu tanajusy (jual beli najsy), te...

Sang Penggerak Itu Bernama Hati

Sesungguhnya di dalam tubuh kita ada segumpal daging, yang bilamana daging itu baik maka baiklah seluruh badan kita. Alaaa wahiyal qalbu… Dialah yang bernama hati… Eksistensi hati dalam tubuh kita bagaikan seorang panglima yang mempunyai kewenangan mutlak dalam mengatur seluruh pasukannya. Dialah awal mula kelahiran sebuah tekad dan niat yang akan menjadi pedoman bagi anggota badan yang lain dalam bekerja. Instruksi hati lah yang akan mengarahkan anggota badan yang lain untuk berbuat dan bertindak, entah ke arah yang baik ataupun arah yang buruk, kepada cahaya kebenaran ataupun gulita kebathilan, kepada indahnya kebaikan ataupun tipu daya keburukan. Hudzaifah bin Yaman RA mengkategorikan hati menjadi empat kategori. Yang pertama adalah hati yang hidup dan bersih, di dalamnya terpancar cahaya keimanan. Cahaya yang menyebabkan sang pemilik akan selalu membuka tangannya kepada kebenaran dan mengunci rapat-rapat pintu rumahnya untuk kebathilan yang hadir. Cahaya yang mem...

Mempertimbangkan Sebuah Pinangan

Keluarga dakwah.com - Bagi seorang wanita yang hendak mempertimbangkan sebuah pinangan, ada baiknya menyimak kisah berikut. Pada suatu ketika ada seseorang yang lewat di hadapan Rasulullah SAW yang sedang duduk bersama para sahabat. “Bagaimana pendapat kalian mengenai orang yang baru lewat tadi?”, tanya Rasulullah SAW kepada para shahabat. “Orang itu merupakan orang terhormat, apabila meminang pasti diterima, apabila dimintai pertolongan pasti mampu menolong, dan ketika berbicara pasti orang-orang mendengarkannya.” Jawab para sahabat dan Rasulullah SAW pun diam mendengar jawaban mereka. Lalu lewatlah seseorang dari golongan miskin yang bernama Ja’il bin Suraqah. “Bagaimana pendapat kalian mengenai orang yang lewat tadi?” tanya Rasulullah SAW. “Dia apabila meminang pasti tidak diterima, apabila dimintai pertolongan pasti tidak mampu menolong, dan ketika berbicara tidak ada yang mendengarkannya.” Rasulullah SAW pun menanggapi jawaban para shahabat, “Ketahuilah b...

Hari Ini Adalah Kemarin, Besok Adalah Hari Ini

Tanpa bermaksud menafikan takdir, saya sangat setuju dengan ungkapan bahwa hidup adalah pilihan. Ya hidup adalah pilihan, kita hanya akan hidup berdasarkan pilihan-pilihan yang kita buat. Kita akan dinilai dengan pilihan-pilihan yang kita buat, kita akan dihargai dengan pilihan yang kita buat, dan kita akan menjadi seperti apa yang kita pilih dalam setiap segmen kehidupan kita. Seorang yang menyerah pada jemarinya dan memilih memetik senar gitar di pinggir jalan, maka dia akan dinamakan pengamen, dan hanya akan akan dihargai antara seribu dan dua ribu. Sementara seorang yang mampu menahan perihnya belajar bergitar yang baik dan memainkan gitar di atas panggung maka dia akan dinamai gitaris dan akan dihargai sesuai kualitasnya, yang jelas lebih besar ketimbang pengamen tadi. Sejatinya apa yang ada pada diri kita adalah akumulasi dari pilihan-pilihan kita pada masa lalu. Pekerjaan kita adalah cerminan dari pilihan-pilihan kita di masa lalu, semua skill yang kita kuasai hari ini ...

Hanya Sekedar Lewat

Keluarga Dakwah - Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat. (HR Bukhari) Senada hadits tersebut, kita juga telah mendengar ungkapan orang bijak bahwa kehidupan ini sejatinya hanya sebuah persinggahan, mampir ngombe , atau sekedar lewat karena semuanya bermuara kepada akhirat yang abadi. Suatu ketika Ibnu Mas’ud RA melihat Rasulullah SAW tidur di atas tikar yang lusuh sampai pola anyaman membekas di pipinya. Kemudian Ibnu Mas’ud menawarkan kepada beliau sebuah kasur. Beliau malah menjawab, “Ada kecintaan apa aku dengan dunia? Aku di dunia ini tidak lain kecuali seperti seorang pengendara yang mencari teteduhan di bawah pohon, lalu beristirahat, kemudian meninggalkannya.” (HR Tirmidzi) Bila kita renungkan, adakah pengendara yang merasa nyaman dengan tempat persinggahannya. Senyaman apapun suasana tempat persinggahan, seindah apapun pemandangan yang disuguhkan, tetap saja kepalanya hanya memikirkan bagaimana agar cepat sampai d...

Sebelum Kamu Meminang

Keluarga Dakwah -  Tak perlu dipungkiri lagi, seorang pria yang sehat jasmani maupun akalnya pasti berupaya mendapatkan wanita yang dianggapnya terbaik menjadi pasangan hidupnya. Dia pasti mempunyai kriteria-kriteria wanita idaman yang menurutnya cocok dengan keadaan dirinya. Demi sebuah harapan akan rumah tangga penuh kedamaian, kebahagiaan, dan ketentraman. Namun seringkali harapan tak tercapai ketika bahtera rumah tangga telah diarungi. Meskipun tidak ada yang salah dengan istrinya, semuanya cocok dengan kriteria yang dia tetapkan, namun kebahagiaan yang diidam-idamkan tak kunjung datang. Bisa jadi istrinya memang tidak salah, namun pada kriteria yang dia tetapkan lah kesalahannya, yang ternyata tidak berbanding lurus dengan tujuan yang diidamkan. Mustahil ketika tujuan seseorang menikah adalah agar “dia tidak lagi makan di luar rumah” akan tercapai jika dia tidak memasukkan “pintar memasak” dalam daftar kriterianya. Dan mungkin kesalahan terletak pada tujuannya yan...

Keutamaan Memberi Tangguh Pengutang dan Memaafkannya

Keluarga Dakwah - Memberi Tangguh Pengutang dan Memaafkannya Allah ta'ala berfirman: وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ ۚ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. QS. Al-Baqarah 280 Jika orang yang berhutang tidak bisa melunasi tepat waktu maka berilah tenggang waktu sampai Allah memudahkan rezekinya sehingga ia bisa mengembalikan harta tersebut kepada kalian. Tapi, jika kalian merelakan harta pokok pinjaman , baik seluruh maupun sebagian dari orang yang berhutang maka itu lebih utama. Itu lebih baik bagi kalian. baik di dunia maupun di akhirat. Hadits Abu Al-Yasar radhiallahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Barang siapa memberi tenggang waktu kepada yang berhutang atau menghapus (ut...

Menentukan Tujuan Rumah Tangga

Keluarga Dakwah - Menentukan Tujuan (RUMAH TANGGA BAHAGIA 01) Diantara tujuan menikah dalam Islam: menjaga kemaluan, melahirkan keturunan, memperbanyak jumlah kaum muslimin, menolong agama, mengikuti sunnah para rasul, memperoleh pahala agung. Semua dapat tercapai melalui hubungan rumah tangga, nafkah, pendidikan anak -terlebih anak perempuan-. Disisi lain ia hidup di rumah yang diliputi ketenangan, cinta, kasih sayang, dan lemah lembut antar personal. Alangkah baiknya bagi pasangan suami-istri untuk membuat kesepakatan bersama di awal pernikahan sesuai tujuan-tujuan agung ini. Kemudian, keduanya menulis berbagai rencana supaya dapat mewujudkannya. Bila ada kelalaian, maka wajib memperbaharui niat dan kembali berusaha mengapai tujuan-tujuannya. Allah Ta’ala berfirman: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasi...

“Satu Permintaan Ringan”

Keluargadakwah.com - Kenikmatan dan keindahan dunia sering kali melalaikan manusia dari tugas utamanya, yaitu beribadah kepada Allah. Banyak keinginan duniawi yang ingin diwujudkan. Demi meraihnya, dibuatlah segala macam rencana dan strateginya. Tidak jarang, dari semua rencananya itu menuntut adanya kerelaan untuk mengorbankan apa yang disukai oleh dirinya. Bahkan sampai pada taraf membahayakan diri sendiri. Lihat saja apa yang di kerjakan oleh pemburu dunia. Tidak peduli siang atau malam, ketika iming-iming materi yang menggiurkan ada di depan mata dengan resiko berbahaya langsung saja dikerjakan olehnya. Tidak peduli pula dengan kehormatan dan harga diri, tatkala uang segepok di pelupuk mata, apa pun resikonya siap dilaksanakan. Kesibukan duniawi yang menguras pikiran dan tenaga sering membuat hati tak sempat lagi untuk memikirkan bagaimana sholat khusyu’. Bahkan sekedar untuk berdzikir mengucapkan kalimat thoyyibah tak lagi ada waktu untuknya. Semua potensi diri difokuska...

Apa Yang Menghalangimu Untuk Menikah?

Pernahkah terpikir oleh kita, ketika seruan anti pacaran begitu gencar, penuh gairah, dan diliputi semangat yang membara. Banyak pemuda muslim yang benar-benar menghapuskan kata pacaran dari kamus hidup mereka. Mereka dengan pede berteriak lantang “TIDAK UNTUK PACARAN!!!”, mereka penuhi waktu-waktu “senggang” mereka dengan berbagai aktivitas sosial dan dakwah. Tak ada lagi kiriman bunga merah hati, janji di sabtu malam, ataupun sekedar saling bertukar emoticon cinta di media sosial. Yang tersisa hanyalah jadwal tahsin harian, halaqah pekanan, rapat aksi sosial, dan jadwal-jadwal “membosankan” lainnya. Namun masalah datang, ketika mereka khususnya para ukhti ukhti telah mencapai usia membutuhkan seorang teman hidup. Seorang teman yang bukan sekedar membersamainya menjalani ruang dan waktu, namun seorang teman yang juga dapat “saling memenuhi satu sama lain”. Terkadang pada usia tersebut, mereka tidak mendapati ikhwan baik-baik yang mau mempersunting mereka. Para ikhwan yan...