Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2022

Ada Saatnya Menolak Perintah Suami

Keluarga Dakwah - Jika dalam hal yang disyari’atkan dan yang mubah Para Istri wajib mematuhi suami, maka lain halnya jika suami menyuruh kepada istri untuk melakukan kemaksiatan dan menerjang aturan-aturan Allah. Untuk yang satu ini kita tidak boleh mematuhinya meskipun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Kalau sekiranya aku (boleh) memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain maka akan aku perintahkan seorang wanita untuk sujud kepada suaminya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah) Kita tidak boleh tunduk pada suami yang memerintah kepada kemaksiatan meskipun hati kita begitu cinta dan sayangnya kepada suami. Jika kewajiban patuh pada suami sangatlah besar, maka apalagi kewajiban mematuhi Allah, tentu lebih besar lagi. Allahlah yang menciptakan kita dan suami kita, kemudian mengikat tali cinta diantara sang istri dan suaminya. Namun perlu diketahui, bukan berarti kita harus marah-marah dan bersikap keras kepada suami jika ia memerintahkan suatu kemaksiatan kepa...

Tinggakanah Sumber Rezeki yang Haram

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram.”  (HR. Ibnu Majah no. 2144, dikatakan sahih oleh Syaikh Al Albani).  Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ruh qudus (Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada A...

Sabar Menghadapi Istri

Sabar Menghadapi Istri Syaikh Abu Muhammad berkata, .  أَنَا رَجُلٌ قَدْ أَكْمَلَ اللَّهُ عَلَيَّ النِّعْمَةَ فِي صِحَّةِ بَدَنِي وَمَعْرِفَتِي ، وَمَا مَلَكَتْ يَمِينِي ، فَلَعَلَّهَا بُعِثَتْ عُقُوبَةً عَلَى دِينِي ، فَأَخَاف إذَا فَارَقْتُهَا أَنْ تَنْزِلَ بِي عُقُوبَةٌ هِيَ أَشَدُّ مِنْهَا . .  “Aku adalah orang yang telah diberikan oleh Allah berbagai macam nikmat berupa kesehatan badan, ilmu, dan dikaruniakan kepadaku budak-budak. Mungkin sikap jelek istriku adalah hukuman Allah atas kekurangan agamaku. Aku hanya takut jika ia kuceraikan akan turun ujian kepadaku lebih berat dari itu.” (Ahkam Al-Qur’an, 1:487) . .  Donasi Dakwah Keluarga Dakwah : 💳 BSI *711 342 4499* a/n Yayasan Keluarga Dakwah QQ INFAQ 📲 Konfirmasi https://wa.me/6282123053171 =====●●●===== 🏢 Jalinan Keluarga Dakwah 🏡 Alamat : Komplek Balai Dakwah Jakarta, Jln. Malaka Raya No.10, Rt 003, Rw 001, Kelapa Dua Wetan, Ciracas, Jakarta Timur (13730)

Membantu Istri dalam Pekerjaan Rumah

Keuarga Dakwah- Banyak lelaki yang enggan melakukan pekerjaan rumah, sebagian mereka berkeyakinan bahwa di antara yang menyebabkan berkurangnya kedudukan dan wibawa laki-laki yaitu ikut bersama anggota keluarga yang lain melakukan pekerjaan mereka. Adapun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau menjahit sendiri bajunya, menambal sandalnya dan melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh laki-laki di dalam rumah mereka. Demikian dikatakan oleh isteri beliau Aisyah radhiyallah ‘anha ketika ia ditanya apa yang dikerjakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rumahnya. Aisyah radhiyallah ‘anhu menjawab dengan apa yang dilihatnya sendiri. Dalam riwayat lain disebutkan: “Ia adalah manusia di antara sekalian manusia, membersihkan bajunya, memerah susu kambingnya dan melayani dirinya”. Aisyah radhiyallah ‘anhu juga ditanya apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rumahnya. Ia berkata: “Ia ada (bersama) pekerjaan keluarganya -maksudnya memban...

Balasan Bagi yang Bersabar

Keuarga Dakwah - Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. Az Zumar: 10).  Al Auza’i berkata bahwa yang dimaksud adalah orang yang sabar pahalanya tidak bisa ditimbang atau ditakar. As Sudi mengatakan bahwa balasan orang yang sabar adalah surga. Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir rahimahullah. Ada hadits yang muttafaqun ‘alaih, عَن عَطَاءُ بْنُ أَبِى رَبَاحٍ قَالَ قَالَ لِى ابْنُ عَبَّاسٍ أَلاَ أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ قُلْتُ بَلَى . قَالَ هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ أَتَتِ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَتْ إِنِّى أُصْرَعُ ، وَإِنِّى أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِى . قَالَ « إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ » . فَقَالَتْ أَصْبِرُ . فَقَالَتْ إِنِّى أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ أَنْ لاَ أَتَكَشَّفَ ، فَدَعَا لَهَا Dari ‘Atho’ bin Abi Robaah, ia berkata bahwa Ibnu ‘Abbas berkata padanya, “Mauka...

Memamerkan Kemesraan Suami Istri

Keuarga Dakwah - Di zaman sekarang, informasi sangat mudah tersebar, hingga urusan pribadi pun seorang tak ragu lagi menyebarkannya. Memamerkan kemesraan suami istri di medsos adalah salah satunya. Padahal ini bisa menimbulkan berbagai macam keburukan dan bahaya. Sebagai ilustrasi: ada seorang istri yang getol memamerkan kebaikan suami di medsos. Dari sekian banyak pasang mata yang melihat, bisa jadi ada sepasang mata seorang istri di luar sana yang terpengaruh dengan citra sempurna dari postingan tersebut. Padahal ia sebelumnya adalah istri yang bersyukur terhadap kebaikan suaminya dan menerima kekurangannya. Dia ridho dengan suaminya dan cinta kepadanya. Akan tetapi gara-gara sering melihat postingan kemesraan pasangan suami istri lain. Berlahan-lahan ia berubah, ia menjadi tidak bersyukur hanya karena paparan citra sempurna pasangan lain yang dipamerkan para istri di luar sana melalui media sosial. Penyebabnya hanya karena sering terpapar postingan seorang istri yang suka memamerkan...

Menipu Diri Sendiri

Fudhail bin Iyadh mengatakan, “Wahai orang yang sengsara, kamu orang jahat tetapi menganggap dirimu baik. Kamu itu orang bodoh tetapi menganggap dirimu pintar. Kamu tolol tetapi angan-anganmu panjang.” Tentang perkataan di atas, Imam adz Dzahabi berkomentar, “Demi Allah, sungguh benar apa yang beliau katakana kita ini zhalim tetapi justru merasa didzalimi, tukang memakan makanan yang haram tetapi merasa diri kita suci, fasik tetapi merasa diri kita shalih, mencari ilmu untuk mengejar dunia tetapi merasa mencarinya karena Allah semata.” Karnanya, harus ada kejujuran dalam hati. Jujur kepada diri sendiri, dan juga kepada Allah dengan menyesuaikan lahir dan batin. Tentang hal ini, Sufyan bin Uyainah berkata, “Apabila amalan hati bersesuaian dengan amalan zhahir, itulah keadilan. Apabila amalan hati lebih baik daripada amalan zhahir, itulah keutamaan, dan apabila amalan zhahir lebih baik daripada amalan bathin, itulah keculasan.” (Shifatus Shafwah : II/234). Oase Imani - Keluarga Dakwah . ...

Menikah Untuk Meraih Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah

Keuarga Dakwah - Sebagaimana telah kita sebutkan sebelumnya, Allah ﷻ berfirman tentang tujuan pernikahan, ﴿وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ﴾ “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang.  Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21) Sakinah artinya adalah ketenangan, mawaddah artinya cinta, adapun rahmah adalah kasih sayang. Seorang suami yang bahagia adalah seorang suami yang terkumpul pada dirinya tiga perkara ini, yaitu dia tenteram bersama istrinya, ia cinta kepada istrinya, dan ia sayang kepada istrinya. Oleh karenanya, penulis sering sampaikan bahwa kebahagiaan seorang lelaki adalah ketika ia bisa b...

Istri Mengabaikan Pendidikan Anak Karena Bekerja

Keuarga Dakwah - Istri Mengabaikan Pendidikan Anak Karena Bekerja Pertanyaan Ada seorang istri yang berkerja sepekan penuh sehingga mengorbankan pendidikan anak-anaknya. Namun demikian, seluruh pendapatanya diberikan kepada keluarganya. Apa hukum syari’inya jika ia menolak untuk berhenti bekerja dan saya wajibkan dirinya untuk berkhidmat kepada anak-anak? Jawaban Peran seorang wanita yang paling utama adalah mengurus rumah tangga dengan baik, mendidik anak-anak, dan setia kepada suami. Ia adalah pemimpin di dalam rumah suaminya dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Apabila peran mulia ini berbenturan dengan pekerjaan-pekerjaan lain maka ia wajib mendahulukan pekerjaan  di rumahnya di atas pekerjaan yang lain. Semua ini dengan asumsi suami telah memberikan persetujuan kepadanya dan tidak melarangnya bekerja di luar rumah. Namun, jika suami menyuruh istri untuk tetap berada di dalam rumah maka ia wajib menaati suami karena adanya perintah Nabi tentang hal itu. Dalam riwaya...

Menjadi Orangtua Shalih Sebelum Menuntut Anak menjadi Shalih

Keuarga Dawkah - Menjadi Orangtua Shalih Sebelum Menuntut Anak menjadi Shalih Allah Azza wa Jalla berfirman: یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ قُوۤا۟ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِیكُمۡ نَارࣰا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ “Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS. At-Tahrim: 6). Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu berkata tentang arti ayat ini: “ajari dan didiklah keluarga dan anak-anak kalian” (Lihat Tuhfatu al-Maudud bi Ahkam al-Maulud, Ibnul Qayyim, Dar al-Kitab al-Arabi, hal.192). Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah dalam Tuhfatu al-Maudud, hal.192 membawakan perkataan sebagian ulama, bahwa Allah akan terlebih dahulu meminta pertanggung-jawaban orangtua terhadap pengelolaan anaknya sebelum meminta pertanggung-jawaban anak dalam bersikap terhadap orang tuanya. Seperti halnya orang tua memiliki hak yang wajib dipenuhi anaknya, maka anak pun memiliki hak yang wajib dipenuhi orangtuanya. Bagaimana Para Ula...

Sebutan Istri Dalam Al Qur’an

Kelurga Dakwah - Allah menyebutkan istri dalam Al Qur’an dengan tiga sebutan. Yaitu Imro`ah, Zaujah dan shohibah. Tentunya penyebutan yang berbeda ini memiliki makna dan tujuan tersendiri. Pertama: Imro’ah  adalah sebutan untuk istri yang memiliki hubungan pernikahan dengan seorang laki-laki namun tanpa adanya hubungan keselarasan fikiran dan rasa cinta. Ketika Allah menyebutkan istri Nabi Nuh dan Nabi Luth, maka menggunakan kata imro’ah. Allah berfirman: ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا “Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat.” (QS. At Tahrim: 10) Allah menyebutkan istri kedua-duanya dengan sebutan imro`ah, karena meksi ada hubungan pernikahan, namun antara mereka tidak ada hubungan baik dalam pemikiran...

Perbedaan Suami -Istri Ketika menghadapi Tekanan

Keuarga Dakwah - Perbedaan antara lelaki dan perempuan sangat tampak saat menghadapi tekanan atau konflik dalam keluarga. Lelaki hanya terprofokasi sedangkan wanita bisa menjadi stress. Perlu ditekankan lagi, bahwa lelaki senantiasa diam dan berpikir dalam-dalam ketika menghadapi masalah. Ada dua sifat yang membuat lelaki tetap tenang ketika menghadapi kesulitan dan masalah. Dua sifat itu adalah, pertama, dia akan pergi ke suatu tempat rahasia yang mana tidak seorang pun dapat mengganggunya, dan kedua, dia akan melampiaskan kemarahannya terhadap apa yang ada di sekitarnya baik itu diungkapkan dengan terang-terangan atau cukup dengan diam saja. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa setiap kali lelaki mendapatkan kesulitan, dia semakin banyak diam. Sifat seperti ini sering kali menjadikan istrinya sedih, dia mengira suaminya sengaja menutupi sesuatu darinya dan membuatnya sakit hati. Akan tetapi keadaannya tidaklah seperti itu. Ketika suami mendapatkan kesulitan dan tekanan, maka dia m...

Hamba yang Kurang Bersyukur

Keuarga Dakwah -  Perkataan al-Qahthani dalam Nuniyahnya.  وَاللهِ لَوْ عَلِمُوْا قَبِيْحَ سَرِيْرَتِيْ لأَبَى السَّلاَمَ عَلَيَّ مَنْ يَلْقَانِيْ وَلَأَعْرَضُوْا عَنِّيْ وَمَلُّوْا صُحْبَتِيْ وَلَبُؤْتُ بَعْدَ كَرَامَةٍ بِهَوَانِ لَكِنْ سَتَرْتَ مَعَايِبِيْ وَمَثَالِبِيْ وَحَلِمْتَ عَنْ سَقَطِيْ وَعَنْ طُغْيَانِيْ فَلَكَ الْمَحَامِدُ وَالْمَدَائِحُ كُلُّهَا بِخَوَاطِرِيْ وَجَوَارِحِيْ وَلِسَانِيْ وَلَقَدْ مَنَنْتَ عَلَيَّ رَبِّ بِأَنْعُمِ مَالِيْ بِشُكْرِ أَقَلِّهِنَّ يَدَانِ Demi Allah, seandainya mereka mengetahui jeleknya hatiku Niscaya orang yang bertemu denganku akan enggan menyalamiku Mereka akan berpaling dariku dan bosan berteman denganku Aku akan menjadi hina setelah mulia Tetapi Engkau menutupi kecacatan dan kesalahanku Dan Engkau bersikap lembut dari dosa dan keangkuhanku Bagi-Mu lah segala pujian dengan hati, badan dan lidahku Sungguh, Engkau telah memberiku nikmat yang begitu banyak Tetapi aku kurang mensyukuri nikmat-nikmat tersebut [Nuniyah al-Qohthoni hal. 9 ]...