Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2020

3 Hal yang Tidak Perlu Ditunggu Dalam Mendidik Anak

Keluarga Dakwah - Menurut keterangan ulama bahwa anak itu terlahir dalam keadaan suci .bagaimana kehendak orang tuanyalah apa yang diinginkan terhadap anak nya . Baik dan buruk nya ada pada keputusan orang tua oleh karena itu pendidikan islam terhadap anak begitu penting. Ada 3 hal yang tidak perlu ditunggu dalam mendidik anak diantaranya: 1. Jangan menunggu bahagia baru mengajarkan kebaikan kepada anak. baik suka dan duka yang sedang dijalani oleh orang tua harus tetap mengajarkan hal-hal yang baik terhadap  buah hati. bukan jawaban yang tepat dengan menggunakan kata sibuk dengan dalih pekerjaan untuk perbaiki ekonomi keluarga, hingga lupa mengajarkan al-quran dan tata cara sholat terhadap anak. Bahagia yang tidak mengenal kondisi itu: -saat kaya tidak sombong. kita tanamkan pada diri anak agar tidak sombong ,memiki sifat rendah hati dan tetap sederhana -saat ekonomi sulit. tidak membuat sang buah hati minder dengan keadaan yang sedang dialam...

Menikah Lagi Sebelum Resmi Cerai

Pertanyaan: Keluarga Dakwah - Menikah Lagi Sebelum Resmi Cerai Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh Ustadz yang saya hormati, saudara laki-laki saya saat ini dekat dengan seorang wanita. Tampaknya hubungan mereka serius dan mengarah kepada pernikahan. Secara pribadi saya setuju saja, hanya saja ada satu masalah yang mengganjal, yaitu wanita itu berstatus istri orang yang belum memiliki surat cerai yang sah menurut negara. Mereka sudah berpisah selama satu tahun lebih, dan kabarnya sudah ada perceraian secara lisan dari si suami. Bagaimana hukumnya jika pernikahan saudara saya dilakukan sebelum wanita itu resmi bercerai secara hukum? Dan bagaimana pula status wanita itu jika suaminya tidak mau mengurus surat cerai di Pengadilan Agama? Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh. Hamba Allah Jawaban: Wa’alaikum salam warahmatullahi wa barakatuh Hamba Allah yang baik, di antara wanita yang haram dinikahi oleh laki-laki muslim adalah wanita yang masih memiliki su...

Halal yang Paling Dibenci

Keluarga Dakwah - Pada dasarnya, kehidupan rumah tangga harus tetap eksis, itulah yang harus dijalani oleh pasangan suami-istri. Di samping itu, keduanya harus hati-hati dari segala hal yang dapat memutuskan, apalagi cerai, atau ucapan dan perbuatan apapun yang mengakibatkan peceraian. Istri harus menjaga supaya tidak berbuat, berucap, bertindak hal-hal yang dapat memicu suami keluar dan melampaui batas, sehingga ia marah dan menceraikannya. Begitu pula suami, dia tidak boleh tergesa-gesa mentalak, dan jangan membiasakan lisan dengan kalimat talak. Di sisi lain harus hati-hati dari segala tindakan yang dapat menghina, atau menurunkan derajat dan kemuliaan istri, kerena ia saudari secara kemanusiaan dan agama, serta pendamping perjalanan hidup. Rasulullah SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM bersabda : “Halal yang paling dibenci oleh Allah Ta’ala adalah talak.” (Hadist Shahih, Abu Dawud) Rasulullah SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM  bersabda : “Siapapun istri yang meminta cerai k...

Keutamaan Menikahi Janda

Keluarga Dakwah - Mengenai keberkahan menikahi wanita, berlaku baik menikahi janda maupun gadis. Dalam al-Quran, Allah menjanjikan kecukupan untuk mereka yang menikah, وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ “Kawinkanlah orang-orang yang masih lajang diantara kalian, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari budak-budak lelaki dan budak-budak perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya”. (QS. an-Nur: 32). Dan ini berlaku umum untuk semua pernikahan, baik menikahi gadis maupun janda. Sebagaimana dinyatakan oleh A’isyah radhiyallahu ‘anha, تَزَوَّجُوا النِّسَاءَ يَأتِينَكُم بِالأَمْوَالِ “Nikahilah wanita, karena akan mendatangkan harta bagi kalian”. (HR. Hakim 2679 dan dinilai ad-Dzahabi sesuai syarat Bukhari dan Muslim). Keutaman Menolong Para Janda Dari Abu Hurairah, berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, السَّاعِ...

Metode dalam Mendidik Anak

Keluarga Dakwah - Mempelajari metode Nabi dalam mendidik anak, sebab segala petunjuk urusan kehidupan itu sudah ada dalam al-Quran dan sunnah-sunnah Nabi. Beberapa metode yang pernah diajarkan Rasululullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dalam perbaikan pendidikan khususnya perilaku sosial kepada anak-anak sebagai berikut; Pertama: Menjadi Teladan Cara yang paling efektif menularkan adab kepada anak adalah melalui pendidikan keteladanan. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, ia berkata: Aku menginap di rumah bibiku Maimunah. Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam biasa bangun kemudian berwudhu dengan wudhu yang ringan dari kendi yang digantung. Setelah itu, ia shalat. Akupun berwudhu sama seperti wudhu Nabi. Kedua: Mencari waktu tepat dalam memberi pengarahan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam sangat memperhatikan waktu dan tempat untuk membangun pola pikir anak dan menumbuhkan akhlak yang baik. Pertama, dalam perjalanan. Dicerita...

Diam itu bijak

Keluarga Dakwah - Diam setelah terjadi masalah rumah tangga, mencari pandangan, serta tidak menceritakan kepada orang lain termasuk adab yang perlu dijaga. Dan ini termasuk ajaran islam yang paling penting. Dilarang memperburuk citra pihak lain apapun yang terjadi, bahkan apabila terjadi perceraian sekalipun. Yang demikian sebagai ketaatan kepada Alla Ta’ala, mengharap pahala, menjaga hubungan, dan menghargai orang-orang terdekat, terutama anak-anak. Rasulullah SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM bersabda : “Tahukah kalian apa itu ghibah? “Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda, “Kamu menyebut apa yang dibenci saudaramu.” Ditanyakan, “Bagaimana jika itu ada dalam dirinya?“ Beliau menjawab, “ Jika ada dalam diri saudaramu maka kamu telah mengghibahnya, sedangkan jika tidak ada maka kamu telah menfitnahnya.” (Shahih Muslim) Rasulullah SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM bersabda : “Apabila seseorang mencelamu lantaran aibmu yang ia tah...

Keluargamu Bisa Jadi Menjadi Musuhmu Di Akhirat

Keluarga Dakwah - Kecintaan kepada keluarga ialah kecintaan yang Allah ciptakan kepada seluruh manusia secara Umum. Sebagai mana Allah Azza wa Jalla berfirman: زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Qs. Ali ‘Imran 14) Bersamaan dengan itu, nikmat keberadaan istri dan anak ini sekaligus juga merupakan ujian yang bisa menjerumuskan seorang hamba dalam kebinasaan. Allah Azza wa Jalla mengingatkan hal ini dalam firman-Nya: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن...

Seni Menjawab Keingintahuan Anak

Keluarga Dakwah - Pertanyaan anak-anak jaman sekarang, memang jauh berbeda dibanding masa kecil kita dulu. Media informasi yang diwakili oleh gadget dan televisi, telah banyak mereformasi cara berpikir setiap orang, termasuk anak-anak. Terlebih gaya pendidikan masa kini telah menjadikan mereka untuk bebas bertanya kepada orang-orang terdekatnya. Namun bila kita perhatikan, pertanyaan yang muncul biasanya tidak jauh dari apa yang mereka lihat,amati dan rasakan. Ya, semua didorong oleh rasa ingin tahunya yang besar terhadap segala sesuatu. Bekal rasa ingin tahu ini memang telah ada sejak manusia lahir. Kehebatan rasa ingin tahu inilah yang membuat bayi bisa merangkak, berjalan dan bicara. Selanjutnya rasa ingin tahu ini akan menentukan kualitas perkembangan otak seseorang. Ketika seorang bunda berkata “Tidak boleh!” Reflek mereka akan berkilah, “Memangnya kenapa kok tidak boleh?” Sayangnya, tak sedikit orang tua yang memberikan intervensi negative sehingga naluri penting i...

Suami yang Jelek

Keluarga Dakwah - Suami yang mencintai istrinya tidak akan membiarkannya terjerumus dalam perilaku yang menyimpang. Sebab, cinta yang sejati menuntut seseorang untuk membentengi kekasihnya dari jurang kehancuran. Suami yang tidak peduli dengan kondisi istrinya dan membiarkannya larut dalam kenistaan kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas kewajibannya dalam membimbing istrinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap kalian adalah penanggung jawab dan akan ditanya tentang tanggung jawabnya. Seorang penguasa adalah penanggung jawab dan kelak akan ditanya tentang tanggung jawabnya, dan seorang lelaki adalah penanggung jawab terhadap keluarganya dan ia akan ditanyai tentang tugasnya.” (HR. Ahmad, al-Bukhari, dan Muslim dari Ibnu Umar c) Lelaki yang tidak peduli terhadap istrinya yang melanggar batasan-batasan agama adalah lelaki yang jelek. Ia berhak mendapatkan murka dari Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiga golong...

Aku Bukan Dia

Keluarga Dakwah - Tip Keluarga bahagia di urutan yang ke 80 adalah "Aku bukan dia", Termasuk perkara yang menganggu rumah tangga adalah membanding-bandingkan dengan orang lain. Bisa jadi hal ini akan mengakibatkan pertikaian keduanya. Perlu hati-hati dari masalah semacam ini, meskipun bermaksud memotivasi, memperingatkan, atau ingin mewujudkan suatu harapan. Suami tidak boleh membandingkan istrinya dengan ibu, saudari, atau perempuan lain. Begitu pula dengan istri, tidak boleh membandingkan suaminya dengan ayah, saudara, atau lelaki lain. Demikian pula denga orang tua, mereka tidak boleh membandingkan anak-anak dengan anak orang lain. Sikap membanding-bandingkan selalu menganggu dan menyakiti perasaan. Ada kalanya dapat melahirkan respon lain yang akhirnya tidak baik. Dr. Nayif Muhammad seorang pakar psikologi mengatakan, “ Musuh terbesar, paling dibenci, dan paling banyak mengundang cemburu, prasangka, dan dendam istri adalah wanita lain, yang suami terus membanding-ba...

Menikah Di Bulan Syawal

Keluarga Dakwah - Setelah bulan suci Ramadhan ada bulan Syawwal, di mana masyarakat sudah mengenal sunnah puasa 6 hari di bulan Syawwal. Akan tetapi ada juga sunnah lainnya di bulan Syawwal yaitu anjuran menikah di bulan Syawwal. Bagi yang sudah dimudahkan oleh Allah, bisa melaksanakan sunnah ini. ‘Aisyah radiallahu ‘anha istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahiku di bulan Syawal, dan membangun rumah tangga denganku pada bulan syawal pula. Maka isteri-isteri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam yang manakah yang lebih beruntung di sisinya dariku?” Sebab Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam menikahi ‘Aisyah di bulan Syawwal adalah untuk menepis anggapan bahwa menikah di bulan Syawwal adalah kesialan dan tidak membawa berkah. Ini adalah keyakinan dan aqidah Arab Jahiliyah. Ini tidak benar, karena yang menentukan beruntung atau rugi hanya Allah Ta’ala. Bulan Syawwal dianggap bulan sial menikah karena nggapan d...

Hancurnya Keluarga Incaran Setan

Keluarga Dakwah - Bercerai berarti hancurnya keutuhan keluarga, sementara kehancuran keluarga merupakan salah satu target yang diincar oleh para setan. Mereka sangat bergembira bila suami berpisah dengan istrinya, anak-anak terpisah dari ayah atau ibunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan, إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيئُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا. فَيَقُوْلُ: مَا صَنَعْتَ شَيْئاً. قَالَ: ثُمَّ يَجيِئُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتىَّ فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ. قَالَ: فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ: نِعْمَ أَنْتَ. قَالَ اْلأَعْمَشُ: أُرَاهُ قَالَ: فَيَلْتَزِمُهُ Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air kemudian ia mengirim tentara-tentaranya. Maka yang paling dekat di antara mereka dengan Iblis adalah yang paling besar fitnah yang ditimbulkannya. Salah seorang dari mereka datang seraya berk...

Ikut Campur yang Dilarang

Keluarga Dakwah - Tips keluarga bahagi yang ke 79 adalah Ikut Campur yang Dilarang Ikut campur orang lain seperti teman atau saudara dalam kehidupan rumah tangga dan pendidikan anak, termasuk maslah yang justru menyulitkan dan menambah beban keduanya. Karena itulah suami-istri tidak boleh memperkenankan seorang pun untuk ikut campur tangan manajemen rumah tangga dan pendididkan anak, apapun alasanya. Kecuali di sana ada mashlahat bagi pihak suami-istri. Sebab diantara kerabat ada yang pendengki, tidak paham, tukang adu domba, sedikit pengalaman, rata-rata mereka lebih banyak memberikan madharat dari pada manfaat. Kecuali orang bijak diantara mereka, maka boleh ikut andil saat terjadi pertikaian, dan diminta oleh pihak suami-istri. Adapaun sebelum itu, maka tidak boleh ikut campur, kecuali jika ada mashlahat yang jelas bagi kedua belah pihak. Dr. Izzat syahin berkata, ”Campur tangan orang lain dalam kehidupan rumah tangga biasanya melahirkan dampak negatif bagi suami-istri, b...

Tidak Bertegur Sapa Dengan Suami

Keluarga Dakwah - Suami istri berselisih paham bahkan berujung pada pertengkaran bukan hal yang aneh, sebab kehidupan rumah tangga pasti tidak akan mulus begitu saja tanpa perselisihan. Bahkan, tidak jarang pula berujung pada tak bertegur sapa satu sama lain. Ini juga masih tergolong wajar. “Asal tak bertegur sapa nya jangan sampai lebih dari tiga hari karena menyalahi nasihat Rasulullah SAW,” Menurut Rasulullah SAW, ujar master bidang hukum Islam ini, tidak halal bagi seorang muslim yang tidak saling menyapa lebih tiga hari seperti yang diriwayatkan Bukhari (6237) dan Muslim (2560). Allah memotivasi agar kaum muslimin berupaya menjadikan muslim yang lain sebagaimana layaknya saudara. Baca juga  Hukum Menerima Komisi dalam Islam إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ “Sesungguhnya hanya kaum muslimin yang bersaudara. Karena itu, berupayalah memperbaiki hubungan antara kedua saudara kalian..” (QS. Al-Hujurat: 10). Bahkan Alla...

Tidak Bisa Menundukkan Pandangan

Keluarga Dakwah - Salah satu yang tidak termasuk kriteria calon suami idaman adalah sering melotot sana sini, atau tidak bisa menundukkan pandangan ketika melihat wanita. Karena Allah Ta’ala berfirman, قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.” (QS. An Nur: 30) Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kepada para pria yang beriman untuk menundukkan pandangan dari hal-hal yang diharamkan yaitu wanita yang bukan mahrom. Namun jika ia tidak sengaja memandang wanita yang bukan mahrom, maka hendaklah ia segera memalingkan pandangannya. Dari Jarir bin Abdillah, beliau mengatakan, سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْ...

Anak itu Perhiasan Sekaligus Fitnah

Pertama: Anak sebagai perhiasan,  Allâh ﷻ berfiman : الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا “ Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” [QS al-Kahfi : 46] Dan juga firman-Nya : زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ “ Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan dan anak-anak.” [QS Ali Imrân : 14] Kedua : Anak sebagai fitnah (ujian) Allâh berfirman : إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ “ Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar.” [QS at-Taghâbûn : 15] Ketika Rasulullâh sedang khutbah di atas mimbar, tiba-tiba Hasan dan Husain berjalan mas...