Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2018

Santunan ‘Idul Fitri untuk Da’i dan Penggiat Dakwah

Santunan ‘Idul Fitri untuk Da’i dan Penggiat Dakwah JKD - Ada orang-orang dalam agama ini yang mendedikasikan dirinya untuk Dakwah Islamiyah. Di antara mereka ada para da’i yang dengan ilmunya mendakwahkan Islam kepada manusia. Ada pula mereka yang meskipun bukan da’i dan tak memiliki ilmu yang cukup namun memberikan kontribusi untuk Dakwah Islamiyah dengan apa yang dimilikinya. Mereka totalitas dalam dakwah hingga waktu mereka untuk mencari ma’isyah (nafkah) pun tidak cukup. Walhasil nafkah yang mereka dapat tidak lah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Tak usahlah membicarakan THR, untuk bulanan saja masih belum terpenuhi. Namun mereka menjaga diri mereka dari meminta-minta. Banyak yang menyangka bahwa mereka berkecukupan padahal mereka masih kekurangan. Allah subhaanahu wa ta'ala berfirman: “(Apa yang kamu infakkan) adalah untuk orang-orang fakir yang terhalang (usahanya karena jihad) di jalan Allah sehingga dia tidak dapat berusaha di bumi; (orang lai...

Hikmah Disyariatkan Berpuasa

Jalinan Keluarga Dakwah - Sesungguhnya pada setiap hukum Allah pasti mengandung hikmah-hikmah yang agung. Terkadang kita dapat mengetahuinya, terkadang akal kita tidak dapat menjangkaunya, dan terkadang kita mengetahui sebagian sedangkan yang tersembunyi masih banyak. Allah Ta’ala telah menyebutkan hikmah disyariatkannya berpuasa dan mewajibkannya kepada kita dalam firmannya: ( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ) سورة البقرة: 183 "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” ( QS. Al-Baqarah: 183). Maka berpuasa adalah sarana untuk merealisasikan ketaqwaan. Taqwa adalah menjalankan apa yang diperintahkan Allah dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya. Maka puasa adalah di antara sebab yang agung yang membantu seorang hamba menjalankan perintah-perintah agama. Para ulama rahimahumullah ...

Puasanya Mereka yang Menyia-nyiakan Shalat

Jalinan Keluarga Dakwah - Orang yang meninggalkan shalat, amalannya tidak diterima, begitu zakat, puasa, haji dan amalan apapun (tidak diterima). Diriwayatkan oleh Bukhari, no. 520, Dari Buraidah radhiallahu anahu berkata, "Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka amalannya telah gugur." Arti ‘Gugur amalannya’ adalah batal dan tidak bermanfaat. Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan shalat, Allah tidak menerima amalan darinya. Maka orang yang meninggalkan shalat tidak bermanfaat sedikitpun amalannya. Tidak akan dinaikkan amalannya kepada Allah. Ibnu Qayim rahimahullah berkata terkait makna hadits ini di kitab Shalat, hal. 65, "Yang tampak dalam hadits ini, bahwa meninggalkan ada dua macam; Meninggalkan semuanya tidak pernah melakukan sama sekali, maka ini akan menghilangkan semua amalannya. Meninggalkan tertentu pada hari tertentu, maka ini menghilangkan amalan pada hari itu. Maka, g...

Puasa, Infaq dan Takwa

Jalinan Keluarga Dakwah -  Puasa ( shiyam ) secara bahasa bisa bermakna imsak atau menahan, maka kata shoum yang tercantum dalam surat Maryam ayat 26 dimaknai sebagai perintah Allah SWT kepada Maryam untuk menahan diri dari berbicara kepada manusia. Adapun pengertiannya menurut istilah syar’i adalah menahan dari hal-hal tertentu (makan, minum, dan jimak) mulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari dan diniatkan sebagai ibadah kepada Allah SWT. Salah satu ayat yang menjadi landasan diwajibkannya puasa adalah surat Al Baqarah ayat 183, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” Tiga Informasi Penting Ayat tersebut setidaknya mengandung tiga informasi. Pertama, pada kalimat كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ menunjukkan mengenai wajibnya puasa ba...

Berbuka Puasa Tanpa Uzur Di Bulan Ramadhan

Jalinan Keluarga Dakwah - Puasa Ramadan adalah salah satu rukun Islam yang menjadi salah satu asas bangunan Islam. Allah telah memberitahukan kewajibannya terhadap orang-orang mukmin dari umat ini. Sebagaimana yang diwajibkan kepada umat-umat sebelumnya. Allah berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (سورة البقرة: 183) "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183) Dan firman-Nya, "(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan bar...

Bermesraan Antara Suami Istri Saat Berpuasa

Jalinan Keluarga Dakwah - Tidak mengapa suami bermesraan dengan isterinya, atau isteri mengucapkan kata-kata mesra kepada sang suami saat puasa, dengan syarat keduanya merasa aman tidak keluar mani (akibat perbuatan tersebut). Jika keduanya tidak merasa aman dari keluarnya mani, seperti orang yang hasrat seksualnya tinggi dan dia khawatir apabila bermesraan dengan isterinya akan batal puasanya akibat keluar mani, maka tidak boleh baginya perbuatan itu, karena akan menyebabkan rusaknya puasa. Demikian pula halnya jika dia khawatir keluar mazi. (Asy-Syarhul Mumti, 6/390) Dalil dibolehkannya mencium dan bermesraan bagi orang yang merasa aman tidak keluar mani, adalah riwayat Bukhai (1927) dan Muslim (1106) dari Aisyah radhialahu anha, dia berkata, "Nabi shallallahu alaihi wa sallam mencium dan bercumbu (dengan isterinya) saat beliau berpuasa. Dan beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan syahwatnya di antara kalian." Dalam shahih Muslim (1108) dari Amr bin ...

Doakanlah Kebaikan Untuk Anakmu

Jalinan Keluarga Dakwah -  Dikisahkan bahwa pada suatu dari Ummu Anas datang kepada Rasulullah SAW, setelah ia memakaikan kain kepada Anas dengan separuh kerudungnya dan memakaikan selendang dengan separuh yang lain. Ummu Anas berkata, “Wahai Rasulullah, inilah Anas kecil, anak lelalki kesayanganku, sengaja aku bawa dia datang kepadamu untuk menjadi pelayanmu, maka berdoalah kepada Allah untuknya.” Nabi Muhammad SAW pun berdoa, “Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya.” Dan dalam riwayat lainnya, beliau berdoa, “Dan berkahilah semua pemberian yang telah engkau anugerahkan kepadanya.” Waktu pun berjalan, tanpa terasa Anas kecil telah memasuki usia senja, dikutip dari kitab Fadhailis Shahabah beliau berkata, “Maka demi Allah, sungguh anak cucuku sekarang jumlahnya benar-benar mencapai kurang lebih seratus orang.” Dari kisah ini kita dapat memperhatikan bagaimana Ummu Anas mempersiapkan masa depan yang baik untuk anaknya, salah satunya dengan memohon serta mendoakan keba...

Hukum Puasa Bagi Wanita Menyusui dan Hamil

Jalinan Keluarga Dakwah - Wanita menyusui, begitu pula wanita hami, ada dua kondisi; Pertama, jika tidak ada pengaruh baginya bepuasa dan tidak kesulitan baginya untuk berpuasa serta tidak dikhawatirkan terhadap anaknya, maka wajib baginya berpuasa, dan dia tidak boleh berbuka. Kedua, Dia khawatir terhadap dirinya atau anaknya jika berpuasa, atau dirinya akan sangat payah. Maka dia boleh berbuka dan mengqadha hari-hari yang dia berbuka. Dalam kondisi seperti ini, lebih utama baginya jika berbuka dan makruh berpuasa. Bahkan sebagian ulama menyebutkan bahwa jika dia khawatir terhadap anaknya, wajib baginya berbuka dan haram baginya berpuasa. Al-Mardawai berkata dalam Al-Inshaf (7/382) Dimakruhkan berpuasa dalam kondisi seperti ini. Ibnu Aqil menyebutkan, 'Jika wanita hamil atau menyusui khawatir terhadap kehamilannya dan anaknya saat dia menyusui, maka diharamkan baginya berpuasa, jika tidak khawatir, maka tidak boleh baginya berbuka." Syekh Ibnu Utsaimi...

Jagalah Perasaan Tetanggamu

Jalinan Keluarga Dakwah -  Rasululah SAW benar-benar memperhatikan persolan tetangga. Hal ini dikarenakan mereka adalah orang pertama yang kita lihat wajahnya ketika kita keluar dari rumah. Dan mereka adalah orang pertama yang akan merasakan dampak dari sikap dan perilaku kita, yang baik maupun yang buruk. Di antara wujud perhatian Nabi SAW terhadap tetangga bisa kita ketahui dari sabda beliau berikut ini: إذا طبخ أحدكم قدرا فاليكثر مرقها ثم ليناول جاره منها “Jika salah seorang di antara kalian memasak hendaknya memperbanyak kuahnya lalu membaginya kepada tetangganya.” (HR Muslim) Ini merupakan salah satu bentuk rahmat agama Islam terhadap tetangga. Di samping itu, perbuatan ini dapat menumbuhkan perasaan senang dan simpati di hati tetangga. Bahkan, Nabi SAW mengingatkan orang yang tidur di malam hari dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan, dengan sabdanya: ما آمن بي من بات شبعانا وجاره جائع إلى جنبه وهو يعلم به “Tidaklah beriman kepadaku orang...

Uzur Dibolehkannya Berbuka Puasa pada Bulan Ramadhan

Jalinan Keluarga Dakwah - Di antara kemudahan yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya adalah tidak diwajibkan berpuasa kecuali kepada orang yang mampu saja. Dan dibolehkan berbuka puasa dikala ada uzur (alasan) syar’i. Berikut ini adalah alasan-alasan syar’i dibolehkannya berbuka puasa. Pertama: Sakit Sakit adalah kondisi yang menyebabkan kesehatan seseorang hilang. Ibnu Qudamah berkata: Ijma (konsesus) para ulama mengatakan bahwa berbuka puasa dibolehkan bagi orang sakit. Dalil konsesus ini adalah firman Allah: “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain." (QS. Al-Baqarah: 184). Salamah bin Al-Akwa’ radhiallahu’anhu berkata: "Ketika turun ayat ini: "Dan bagi orang-orang yang mampu dia membayar fidyah makan kepada orang miskin" Dahulu bagi orang yang ingin berbuka, dia boleh berbuka (walau tidak ada alasan apa-apa) akan tetap...

Zainab binti Jahsy radhiallaahu ‘anha - Istri-Istri Rasulullah

Pernikahan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dengan Zainab binti Jahsy didasarkan pada perintah Allah sebagai jawaban terhadap tradisi jahiliah. Zainab binti Jahsy adalah istri Rasulullah yang berasal dan kalangan kerabat sendiri. Zainab adalah anak perempuan dan bibi Rasulullah, Umaimah binti Abdul Muththalib. Beliau sangat mencintai Zainab. Nasab dan Masa Pertumbuhannya Nama lengkap Zainab adalah Zainab binti Jahsy bin Ri’ab bin Ya’mar bin Sharah bin Murrah bin Kabir bin Gham bin Dauran bin Asad bin Khuzaimah. Sebelum menikah dengan Rasulullah, namanya adalah Barrah, kemudian diganti oleh Rasulullah menjadi Zainab setelah menikah dengan beliau. Ibu dari Zainab bernama Umaimah binti Abdul-Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushai. Zainab dilahirkan di Mekah dua puluh tahun sebelurn kenabian. Ayahnya adalah Jahsy bin Ri’ab. Dia tergolong pernimpin Quraisy yang dermawan dan berakhlak baik. Zainab yang cantik dibesarkan di tengah keluarga yang terhormat, sehingga tidak ...

Santuna 50 Anak Yatim dan Dhuafa - Jalinan Keluarga Dakwah

JKD - Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا » وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya [HR al-Bukhari (no. 4998 dan 5659)]. Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan dan pahala orang yang meyantuni anak yatim, sehingga imam Bukhari mencantumkan hadits ini dalam bab: keutamaan orang yang mengasuh anak yatim. Dalam rangka mengisi bulan suci Ramadhan ini, kembali JKD (jalinan Keluarga Dakwah) mengadakan Santunan ) Anak Yatim dan Dhuafa. Yang mana Insya Allah acara ini akan dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 2 juni 2018. Dengan ini kami mengajak para donatur yang ingin berpartisipasi dapat mengirimkan DO...

Keutamaan Bulan Ramadhan

Alhamdulillah, kita sudah menginjak bulan Ramadhan. Berikut adalah keistimewaan-keistimewaan yang disebutkan dalam berbagai ayat dan hadits. Adapun keisltimewaannya antara lain: 1. Ramadhan adalah Bulan Diturunkannya Al Qur’an Bulan ramadhan adalah bulan yang mulia. Bulan ini dipilih sebagai bulan untuk berpuasa dan pada bulan ini pula Al Qur’an diturunkan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah: 185) Ibnu Katsir rahimahullah tatkal...

Asma binti Abu Bakar

Jalinan Keluarga Dakwah - Seorang sahabat wanita yang terkemuka dan termasuk orang yang memeluk Islam dari sejak dini. Dalam peristiwa hijrah beliau menahankan berbagai penderitaan dengan penuh kesabaran. Dia dijuluki dengan julukan “Dzaatin Nithaqain” (Wanita yang memiliki dua sabuk). Dia sempat ikut Perang Yarmuk dan mendapat cobaan. Asma adalah wanita yang fasih berbahasa dan pandai melantunkan syair. Dialah ibu dari Abdullah bin Zubair dia pulalah muhajirin yang terakhir meninggal dunia. Asma’ binti Abu Bakar sudah memeluk Islam sejak masa-masa awal datangnya Islam. Beliau adalah saudarinya ibunda Aisyah ra. Suatu waktu, ketika Rasullah dengan Abu Bakar ra telah memerintah Zaid ra dan beberapa orang pegawainya untuk mengambil kudanya dan keluarganya untuk dibawa ke Madinah. Asma ra berhijrah dengan rombongan tersebut. Sesampainya di Quba – dari rahim Asma ra – lahirlah putra pertamanya yakni Abdullah bin Zubair. Dalam sejarah Islam, itulah bayi pertama yang dilahirkan ...

Kewajiban Sholat Bagi Orang Tua yang Sudah Pikun

Pertanyaan : Ustadz mau tanya kalau orang yang sudah tua sekali, sudah agak pikun, sama anaknya dipakekan pampers karna jalan sudah susah. Apa masih ada kewajiban sholat? Jawaban : Wa’alaikum salam warohmatulloh wabarokatuh Sebaiknya anda pastikan dulu status kesehatan orang tua anda apakah sudah benar-benar pikun atau belum_ Jika ternyata orang yang sudah tua tersebut sampai hilang akalnya maka dia tidak wajib shalat, karena orang yang hilang akalnya tidak dibebani dengan kewajiban, apa pun bentuknya, Hal ini sebagaimana yang disepakati oleh para ulama_ Sebab sandaran dimana seseorang tersebut mendapatkan beban untuk beribadah pada Alloh, melaksanakan kewajiban & meninggalkan larangan adalah ditinjau dari kesehatan AKAL-nya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : ﺭﻓﻊ ﺍﻟﻘﻠﻢ ﻋﻦ ﺛﻼﺙ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺎﺋﻢ ﺣﺘﻰ ﻳﺴﺘﻴﻘﻆ ﻭﻋﻦ ﺍﻟﺼﻐﻴﺮ ﺣﺘﻰ ﻳﻜﺒﺮ ﻭﻋﻦ ﺍﻟﻤﺠﻨﻮﻥ ﺣﺘﻰ ﻳﻌﻘﻞ ﺃﻭ ﻳﻔﻴﻖ “ Pena catatan amal diangkat (amalnya tidak dicatat) untuk tiga orang : Orang yang tidur ...