Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2018

Berilah Anakmu Nama yang Baik

Jalinan Keluarga Dakwah - Nama merupakan hal yang sangat penting. Ia bukan hanya merupakan identitas pribadi dirinya di dalam sebuah masyarakat, namun juga merupakan cerminan dari karakter seseorang. Rasululloh SAW menegaskan bahwa suatu nama sangatlah identik dengan orang yang diberi nama. Rasulullah SAW bersabda, غفارغفر الله لها وأسلم سالمها الله وعصية عصت الله ورسوله “Ghifar diampuni oleh Allah, Aslam didamaikan oleh Allah, dan Ashiyyah telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR Bukhari) Rasulullah SAW sangat mewanti-wanti umatnya dalam persoalan nama, begitu pentingnya hal ini beliau bahkan tidak segan-segan mengganti nama seseorang yang tidak baik. Sebagaimana yang terjadi pada sahabat Abu Hurairah RA, di mana nama asli beliau adalah Abdu Syams maka Rasulullah SAW langsung mengganti nama beliau menjadi Abdurrahman di hari pertama keislamannya. Ibnul Qayyim Al Jauziyah berkata, "Barangsiapa yang memperhatikan sunnah, ia akan mendapatkan bahwa makna-m...

Asy-Syifa’ binti al-Harits, Perempuan yang Disebut Allah

Nama lengkapnya adalah asy-Syifa’ binti Abdullah bin Abdi Syams bin Khalaf bin Sadad bin Abdullah bin Qirath bin Razah bin Adi bin Ka’ab al-Qurasyiyyah al-Adawiyah. Asy-Syifa’ ra masuk Islam sebelum hijrahnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam dan beliau termasuk muhajirin angkatan pertama dan termasuk wanita yang berba’iat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Beliaulah yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa ta’ala: “Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia bahwa mereka tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Mumtahanah: 12) Asy-Syifa’ termasuk wanit...

Asma` Binti ‘Umais, Pemilik 2 Sayap

Nama lengkapnya adalah Asma’ binti Ma`d bin Tamim bin Al-Haris bin Ka`ab Bin Malik bin Quhafah, dipanggil dengan nama Ummu Ubdillah. Beliau adalah termasuk salah satu di antara empat akhwat mukminah yang telah mendapat pengesahan dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya: “Ada empat akhwat mukminat yaitu Maimunah, Ummu Fadl, Salma dan Asma” . Beliau masuk Islam sebelum kaum muslimin memasuki rumah al-Arqam. Beliau adalah istri pahlawan di antara sahabat yaitu Ja`far bin Abi Thalib, sahabat yang memiliki dua sayap sebagaimana gelar yang Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam berikan terhadap beliau. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam manakala ingin mengucapkan salam kepada Abdullah bin Ja`far beliau bersabda : ‘Selamat atas kamu wahai putra dari seorang yang memiliki dua sayap (Dzul janahain).” Asma’ termasuk wanita muhajirah pertama, beliau turut berhijrah bersama suaminya yaitu ja`far bin Abi Thalib menuju Habasyah, beliau merasakan pahit getirn...

Sunnah-Sunnah Hari Raya

Jalinan Keluarga Dakwah - Tak terasa beberapa hari kedepan kita memasuki hari yang ditunggu-tunggu, ya hari Eid. Disebut ‘Ied karena pada hari itu Allah memberikan berbagai macam kebaikan yang kepada kita sebagai hambaNya. Diantara kebaikan itu adalah berbuka setelah adanya larangan makan dan minum selama bulan suci Romadhan dan kebaikan berupa diperintahkannya mengeluarkan zakat fitrah. Para ulama telah menjelaskan tentang sunah-sunah Rasulullah yang berkaitan dengan hari raya, diantaranya: 1. Mandi pada hari raya. Sa’id bin Al Musayyib berkata: “Sunah hari raya ‘idul Fitri ada tiga: berjalan menuju lapangan, makan sebelum keluar dan mandi.” 2. Berhias sebelum berangkat sholat ‘Iedul Fitri. Disunahkan bagi laki-laki untuk membersihkan diri dan memakai pakaian terbaik yang dimilikinya, memakai minyak wangi dan bersiwak. Sedangkan bagi wanita tidak dianjurkan untuk berhias dengan mengenakan baju yang mewah dan menggunakan minyak wangi. 3. Makan sebelum sholat ‘I...

Asma Binti Yazid Al-Anshariah Sang “juru bicara wanita”

Nama lengkapnya  adalah Asma’ binti Yazid bin Sakan bin Rafi’ bin Imri’il Qais bin Abdul Asyhal bin Haris al-Anshariyyah, al-Ausiyyah al-Asyhaliyah. Beliau adalah seorang ahli hadis yang mulia, seorang mujahidah yang agung, memiliki kecerdasan, dien yang bagus, dan ahli argumen, sehingga beliau dijuluki sebagai “juru bicara wanita”. Di antara sesuatu yang istimewa yang dimiliki oleh Asma’ ra adalah kepekaan inderanya dan kejelian perasaannya serta ketulusan hatinya. Selebihnya dalam segala sifat sebagaimana yang dimiliki oleh wanita-wanita Islam yang lain yang telah lulus dalam madrasah nubuwwah, yakni tidak terlalu lunak (manja) dalam berbicara, tidak merasa hina, tidak mau dianiaya dan dihina, bahkan beliau adalah seorang wanita yang pemberani, tegar, mujahidah. Beliau menjadi contoh yang baik dalam banyak medan peperangan. Asma’ ra mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam pada tahun pertama hijrah dan beliau berba’iat kepadanya dengan ba’iat Islam. R...

Ingin Beri'tikaf Pada Malam-malam Ganjil Saja

Jalinan Keluarga Dakwah - Yang lebih utama seorang muslim beri'tikaf pada sepuluh malam akhir seluruhnya, untuk meneladani Nabi sallallahu alaihi wa salam. Telah diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiallahu anha sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam biasanya beri'tikaf pada sepuluh malam akhir di bulan Ramadan sampai beliau wafat. HR. Bukhari, 2025 dan Muslim, 1171. Jika tidak memungkinkan beri'tikaf pada sepulum malam akhir semuanya, dan melakukannya pada sebagian hari dan malamnya, hal itu tidak mengapa. Telah diriwayatkan oleh Bukhari dari Umar bin Khatab radhiallahu’anhu bahwa beliau bernazar untuk beri'tikaf semalam di Masjidil Haram. Maka Nabi sallallahu’alaihi wa sallam menyuruhnya untuk memenuhi nazarnya. (HR. Bukhari, 2042 dan Musli, 1656) Di dalamnya terdapat dalil tentang sahnya beri'tikaf semalam. I'tikaf tidak ada batasan minimalnya. Selayaknya (bagi seseorang) bersemangat dalam beribadah di sepuluh (malam akhir) ini...

Waktu Minimal Untuk Beri'tikaf

Para ulama berbeda pendapat terkait dengan waktu minimal untuk beri'tikaf. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat, waktu minimal adalah sebentar saja. Ini adalah mazhab Abu Hanifah, Syafi'i dan Ahmad. Silahkan lihat, Ad-Dur Al-Mukhtar, 1/445, Al-Majmu’, 6/489. Al-Inshof, 7/566. An-Nawawi rahimahullah dalam Al-Majmu’, 6/514 mengatakan, “Adapun waktu  minimal i'tikaf, pendapat yang kuat dimana yang telah ditegaskan jumhur ulama adalah  cukup diam di masjid.  Hal itu dianggap berlaku, baik banyak maupun sedikit, meskipun sejam atau sebentar saja.” Mereka berdalil akan hal ini dengan beberapa dalil, 1.      Bahwa i'tikaf dari sisi bahasa adalah tetap di suatu tempat. Hal ini bisa dalam waktu lama maupun sedikit. Dalam syariat juga tidak ada ketentuan waktu tertentu. Ibnu Hazm berkata, “I'tikaf dalam sisi bahasa adalah tinggal, maka setiap orang yang tinggal di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah termasuk I'tikaf. Baik waktunya s...

I’tikafnya Wanita Di Dalam Masjid

Dibolehkan bagi wanita beri’tikaf di dalam masjid pada sepuluh akhir Ramadan. Bahkan I’tikaf itu disunahkan bagi lelaki dan perempuan. Dahulu ummahatul mukminin radhiallahu’anhunna berti’tikaf bersama Nabi sallallahu’alaihi wa sallam semasa hidupnya. Mereka juga beri’tikaf setelah wafatnya beliau sallallahu’alaihi wa sallam. Telah diriwatkan oleh Bukhari, 2026 dan Muslim, 1172 dari Aisyah radhiallahu’anha istri Nabi sallallahu’alaihi wa sallam: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِه “Sesungguhnya Nabi sallallahu’alaihi wa sallam biasanya beri’tikaf pada sepuluh malam akhir Ramadan, sampai Allah wafatkan. Kemudian istri-istrinya beri’tikaf setelah itu." Dalam ‘Aunul Ma’mud dikatakan, “Di dalamnya terdapat dalil bahwa para wanita seperti para lelaki dalam beri’tikaf.” Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan, “I’tikaf adalah...

Syarat I'tikaf

Jalinan Keluarga Dakwah - Dianjurkan beri'tikaf di masjid yang didirikan di dalamnya shalat jama’ah. Kalau orang yang beri'tikaf termasuk diwajibkan dirinya melakukan shalat Jum’at, maka disela-sela I'tikafnya harus melakukan shalat Jum'at. Dan (melaksanakan I'tikaf) di masjid yang ditunaikah shalat Jum'at itu yang lebih utama. Dan tidak diharuskan berpuasa. Yang sesuai sunnah, orang yang beri'tikaf agar tidak mengunjungi orang sakit di sela-sela I'tikafnya. Tidak mendatangi undangan, tidak menunaikan keperluan keluarganya, tidak menyaksikan jenazah, tidak pergi ke tempat kerjanya di luar masjid. Sebagaimana telah ada ketetapan dari Aisyah radhiallahu’anha beliau berkata,  السنة على المعتكف ألا يعود مريضاً ، ولا يشهد جنازة  ولا يمس امرأة ،  ولا يباشرها ، ولا يخرج لحاجة إلا لما لابد منه   (أخرجه أبو داوود 2473) “Yang sesuai sunah  bagi orang yang beri'tikaf adalah tidak menjenguk orang sakit. Tidak menyaksikan jenazah, tidak menyentuh w...

Santun Anak Yatim dan Dhu'afa JKD 2018

Jalinan Keluarga Dakwah - Kemanusiaan itu nampaknya hampir hilang dari sebagian orang, terlebih hari ini kita dituntut untuk dipaksa memeras keringat lebih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Adakalanya juga kita lupa bersyukur atas segala nikmat yang telah didapat. Benar? Sebentar, lalu bagaimana dengan mereka yang justru senantiasa masih dalam kekurangan? Hidup tak beratap atau bahkan untuk sekedar makan saja mereka 'amnesia' antara ada dan tiada. Tapi Rabb yang kita sembah Maha Rahman, Dia-lah yang menjadikan bulan ini penuh dengan kebaikan. Setiap orang mencoba merajut rasa kemanusiaannya yang hampir hilang. Allah bukakan pintu kebaikan, menjadikan manusia bertambah kedermawanannya. Mengejawantahkan rasa pedulinya diatas iman dan kasih sayang. Persis seperti apa yang manusia termulia Muhammad Shallallahu alaihi sallam contohkan. Oh iya, Sabtu lalu, 2 Juni 2018, kami menunaikan amanah dari pada aghniya untuk menjadi wasilah dari kemurahan hati mereka yg m...

Petunjuk I’tikaf Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam

Jalinan Keluarga Dakwah - Petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah yang paling sempurna dan paling mudah. Suatu kali beliau I’tikaf pada sepuluh hari pertama, kemudian sepuluh hari pertengahan untuk mencari Lailatul Qadar, berikutnya menjadi jelas baginya bahwa dia terdapat pada sepuluh malam terakhir. Maka beliau setelah itu kontinyu I’tikaf selama sepuluh hari terakhir (Ramadan) hingga bertemu Tuhannya Azza wa Jalla. Suatu kali beliau meninggalkan I’tikaf pada sepuluh hari terakhir, lalu beliau qadha di bulan Syawal pada sepuluh hari pertam di bulan tersebut. (HR. Bukhari dan Muslim). Bahkan pada tahun kematiannya, beliau melakukan I’tikaf menjadi selama 20 hari. (HR. Bukhari, no. 2040) Ada yang mengatakan bahwa sebab beliau I’tikaf lebih lama adalah karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah mengetahui ajalnya, maka beliau ingin memperbanyak amal kebaikan untuk menjelaskan kepada umatnya tentang kesungguhan beramal agar mereka menghadap Allah...

Nasehat-Nasehat Seputar Pernikahan

Jalinan Keluarga Dawkah - Penikahan sejatinya adalah hal yang biasa-biasa saja. Setiap manusia berakal sehat dan telah mencapai rentang usia tertentu dalam hidupnya, pasti akan mulai berpikir untuk mencari lawan jenis yang pantas untuk dijadikan pasangan hidupnya. من اسنطاع منكم الباءة فليتروج “Barangsiapa di antara kalian mampu nafkah baik lahir maupun batin maka menikahlah.” (HR Bukhari) Dan pernikahan juga merupakan penyatuan antara dua insan yang berbeda baik jenis kelamin, fisik, jiwa, serta isi kepala. Karena perbedaan sangat mendasar yang dimiliki keduanya itu, maka diperlukan sikap lapang dada serta sikap rendah hati demi tercapai sebuah kesepakatan yang menyenangkan kedua belah pihak baik suami maupun istri. Bagi seorang muslim yang telah melakukan pernikahan, tentunya ada beberapa tuntunan ataupun rambu-rambu syariat yang perlu diperhatikan. Agar kelak apapun kesepakatan yang dibuatnya bersama pasangan selalu dalam keridhaan Allah SWT, dan agar kelak segala ...

Iktikaf Hanya Di Malam Hari, Sahkah?

Dewasa ini berkembang “tren” baru dalam iktikaf. Seseorang cukup beriktikaf malam hari selama 10 hari terakhir. Sementara siang harinya ia bekerja sebagaimana biasa. Bagaimana hukumnya? Apakah ia berhak mendapatkan pahala iktikaf? Jawaban : Insya Allah mereka mendapatkan pahala iktikaf sesuai dengan niat mereka. “Tren” seperti ini patut kita syukuri karena mereka menggabungkan dua kewajiban; bekerja mencari nafkah dan sunnah iktikaf. Orang- orang seperti ini jauh lebih baik dari pada mereka yang meninggalkan kewajiban mencari nafkah atau kewajiban-kewajiban lainnya “hanya” untuk mengejar I’tikaf yang hukumnya sunnah. Hal ini lebih baik juga dari orang-orang yang hanya melakukan kewajiban mencari nafkah saja pada bulan Ramadhan dan tidak melakukan iktikaf sama sekali. Namun, bila kebutuhan nafkah sudah tersedia dan pekerjaan dapat ditinggalkan, menetap di masjid siang malam selama sepuluh hari terakhir adalah jauh lebih baik dan sesuai dengan yang dicontohkan oleh Nabi saw. Wall...

Keutamaan Iktikaf 10 Hari Terakhir Ramadhan

Jalinan Keluarga Dakwah - Keutamaan Iktikaf 10 Hari Terakhir Ramadhan Pertama: Membersihkan diri dari dampak negatif pergaulan yang terlalu berlebihan. Sebagaimana kita ketahui bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Dia harus bergaul dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kadang dalam pergaulan tersebut terjadi dosa atau kesalahan yang membuat hati kita menjadi kotor. Dengan iktikaf, seorang hamba berusaha membersihkan hatinya dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menjauhkan diri dari pergaulan manusia  yang selama ini membuat hatinya kotor. Karena pergaulan yang melampaui batas akibat merusak hati manusia. Sebagaimana makan dan minum, kalau dilakukan sesuai dengan kadarnya maka akan bermanfaat, tetapi jika berlebihan dan melampaui batas, akan membawa mudharat bagi tubuh kita. Untuk mengurangi mudharat dari makan dan minum yang berlebihan, diwajibkan untuk berpuasa pada bulan Ramadhan dan untuk mengurangi mudha...

Rubai binti Ma’udz, Wanita yang Pandai Dalam Urusan Diennya

Nama sebenarnya adalah Ruba’i bi Ma’udz bin al-Haris bin Fifa’ah bin al-Haris bin Sawad bin Malik bin Ghanam bin Malik al-Anshariyah an-Najariyah. Ibu beliau Ummu Yazid binti Qais bin Za’wa’ bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin Adi bin an-Najar. Ruba’i ra termasuk angkatan pertama yang masuk Islam, sungguh nampak ketulusan imannya dan kokohnya keyakinannya tatkala beliau berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam di bawah sebuah pohon, itulah bai’at yang diberi nama dengan baitur ridhwan. Sehingga, beliau termasuk orang yang sukses mendapatkan keridhaan dari Allah sebagaimana yang difirmankan Allah, “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bahwah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan adalah Allah Maha Per...

Tanda-Tanda Lailatul Qadar

Jalinan Keluarga Dakwah - Tanda-Tanda Lailatul Qadar Jawaban : Malam lailatul qadar mempunyai tanda-tanda, diantaranya: Pertama: Malam itu udaranya sedang, tidak terlalu  dingin dan tidak terlalu  panas. Dalilnya adalah sabda Rasulullah saw : إني كنت أريت ليلة القدر ، ثم نسيتها ، وهي في العشر الأواخر من ليلتها ، وهي ليلة طلقة بلجة لا حارة و لا بارة "Saya pernah diperlihatkan Lailatul Qadar, akan tetapi saya lupa, malam itu jatuh pada malam sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan, suasana malam itu cerah dan indah, tidak panas dan tidak dingin."  (Hadits shahih riwayat Ahmad ,Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban). Kedua: Matahari pada pagi harinya terbit berwarna merah dan sinarnya tidak menyengat. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ubay bin Ka'ab: أخبرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم  أن الشمس تطلع من ذلك اليوم لا شعاع لها "Rasulullah saw telah memberitahukan kita bahwa matahari terbit pada hari itu tidak bercahaya (sinarnya tidak menyengat)....

Keutamaan Lailatul Qadar

Jalinan Keluarga Dakwah - Lailatul Qadar mempunyai beberapa keutamaan. Diantaranya: Pertama: Pada malam tersebut Al-Qur'an diturunkan pertama kali. Dalilnya adalah firman Allah SWT: إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْر "Kami telah menurunkan Al-Qur'an ini pada malam ‘Lailatul Qadar’." (Al-Qadr: 1). Kedua: Beribadah pada malam Lailatul Qadar lebih baik dari pada beribadah seribu bulan yang di dalamnya tidak terdapat Lailatul Qadar. Sebagaimana firman Allah SWT: لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْر "Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan."  (Al-Qadr: 3). Para ulama berbeda pendapat tentang maksud ayat di atas, akan tetapi mayoritas ulama mengatakan bahwa amalan pada malam hari itu lebih baik dari amalan seribu malam yang tidak terdapat di dalamnya Lailatul Qadar. Ketiga: Para Malaikat bersama malaikat Jibril turun pada malam tersebut dengan membawa rahmat dan berkah. Sebagaimana firman Allah SWT: تَنَزَّلُ الْ...