Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2021

Apa Hukum Menikahi Wanita Yahudi dan Nasrani?

Keluarga Dakwah - Pertanyaan : “Apa hukum menikahi wanita Yahudi dan Nasrani? Apakah kita menganggap mereka sebagai ahlul kitab atau sebagai orang musyrik?” Jawaban: Menikahi perempuan dari kalangan Yahudi dan Nasrani diperbolehkan menurut kebanyakan para ulama. Berkata Ibnu Qudamah di dalam kitab Al-Mughni, “Alhamdulillah, tidak terdapat perselisahan di antara para ulama tentang kebolehan menikahi perempuan-perempuan merdeka dari kalangan ahlul kitab. Hal itu sebagaimana yang diriwayatkan oleh Umar, Ustman, Thalhah, Khudzaifah, Salman, Jabir dan lainnya.” Ibnu Mundzir menambahkan, “Tidaklah benar anggapan bahwa seseorang dari kalangan salaf mengharamkan menikahi perempuan Yahudi dan Nasrani. Diriwayatkan dari Khalal dengan sanadnya bahwa Khudzaifah, Thalhah, dan Jaruud bin Mu’la menikahi perempuan dari kalangan ahlul kitab. Dan seperti itulah pendapat kebanyakan para ulama. (Al-Mughni juz 7/99) Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,  االْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَع...

Beratnya Menjaga Keluarga

Keluarga Dakwah - Jika dibandingkan dengan mayoritas kita yang menghadapi begitu banyak masalah meski hanya memiliki satu istri saja, problematika yang muncul di dalam keluarga Rasulullah terhitung tidak seberapa. Itupun mayoritas muncul dari kecemburuan di antara para istri beliau. Dan bagaimana seorang istri tidak cemburu jika bersuamikan lelaki seperti Rasulullah? Yang menarik adalah bagaimana Rasulullah menghadapi berbagai masalah rumah tangga yang dipicu dari rasa cemburu ini. Sebab meski sama-sama berasal dari kecemburuan, cara Rasulullah menghadapinya sangat beragam. Hal yang bukan saja memperkaya referensi para suami dalam memilih solusi yang tepat bagi masalah rumah tangga mereka, namun juga membantu mereka memahami kompleksitas berbagai persoalan keluarga. Ada kalanya Rasulullah hanya tersenyum dan memilih pembiaran sebagai solusi masalah ketika menghadapi kecemburuan istri beliau. Seperti saat ibunda Aisyah membandingkan dirinya dengan para istri Nabi yang lain, ibarat tempa...

Berhias untuk suami yang dibolehkan

  Keluarga Dakwah - Assyaikh Al-Allamah Abdul Aziz Ibnu Baz rahimahullah, "Dianjurkan bagi seorang wanita untuk berhias dihadapan suaminya, karena hal ini termasuk dari sebab kecintaannya, dan kecondongan hatinya padanya.  Berhiasnya istri dihadapan suami termasuk dalam firman Allah subhanahu wa ta'ala:  وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ "Pergaulilah mereka dengan cara yang baik". (An-Nisa :19) وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ “Dan para istri mempunyai hak yang seimbang dengan kewajiban mereka menurut cara yang ma’ruf.” (Al-Baqarah: 228) Wajib baginya berhias untuk suaminya, menggunakan wewangian, segala sesuatu yang akan menimbulkan kecintaannya,  Ini adalah sunnah yang semestinya ditunaikan seorang istri. Namun tidak menggunakan sesuatu yang Allah haramkan. Wajib baginya untuk menggunakan sesuatu yang Allah bolehkan berupa wewangian, pakaian dan yang semisalnya. Adapun perbuatan yang Allah haramkan, maka jangan dilakukan seperti, - Mencukur alis, ti...

Kemesraan Suami Istri Jangan Bersifat Sementara

Keluarga Dakwah - Saat menjadi pengantin baru, pasangan suami istri sedemikian mesranya. Tidak ada yang terlihat kecuali senyuman yang tersungging dari mulutnya. Seiring waktu, masing-masing memperlihatkan karakter asli yang terkadang membuat kaget lawan pasangannya. Belum ditambah dengan masalah-masalah yang datang yang berujung kepada pertengkaran terjadi di rumah. Itulah bumbu bahtera pernikahan. Adakalanya mesra, pada waktu lain muncul pertengkaran. Terkadang hubungan begitu hangat, di lain hari mendingin. Demikianlah seterusnya. Bagi rosululloh shollallohu alaihi wasallam, Aisyah adalah istri paling dicinta. Kendati  demikian, tidak bisa dihindari terkadang kehangatan antara keduanya sedikit berkurang. Suatu saat, nabi shollallohu alaihi wasallam berkata kepada Aisyah bahwa beliau tahu kondisinya sedang suka atau benci kepada beliau. Bila Aisyah senang, ia akan mengatakan “ La, waRobbu Muhammad (tidak, demi Rob Muhammad) “ Namun bila sedang kesal kepada beliau, ia akan berkata...

Hukum Talak Orang yang Hilang Akal Karena Mabuk atau Sebab Lainnya

Keluarga Dakwah - Para ulama telah sepakat bahwa orang yang hilang akal selain yang disebabkan oleh mabuk atau yang sebangsanya tidak dapat menjatuhkan talak, kalau toh menjatuhkan talak, maka talaknya tersebut tidak berlaku. Mereka semua sepakat bahwa seorang suami yang menjatuhkan talak pada saat tidur, maka talaknya tidak sah. Sebagaimana telah ditegaskan bahwa Nabi saw bersabda, “(Diangkat pena) tidak dicatatkan amalnya dari tiga golongan, yaitu anak-anak sehingga ia dewasa, orang tidur sehingga ia bangun, dan orang gila sehingga ia sadar.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, Nasa’i, al-Hakim, dan Baihaqi, dan hadits ini derajatnya shahih). Karena talak merupakan suatu hal yang dapat menghilangkan kepemilikan, sehingga diperlukan adanya akal pikiran, sebagaimana halnya dengan jual beli, baik hilangnya akal itu disebabkan oleh gila, pingsan, tidur, minum obat, atau karena dipaksa minum khamer, atau sesuatu yang dapat menghilangkan akal pikiran. Semua hal tersebut menghalangi terjadinya talak. De...

Engkau Memang Beda

Keluarga Dakwah - Lelaki dan perempuan memang beda Tak sedikit perbedan menjadi meretakkan bahkan menjadi pemisah antara suami dan istri. Kunci hidup berumah tangga adalah bisa memahami dan menerima pasangan hidup kita. Salah satu perbedaan antara suami istri adalah Lelaki lebih banyak diam sedangkan wanita lebih banyak bicara; Lelaki itu lebih banyak diam untuk mendengarkan wanita yang bahagia sedang berbicara. Lelaki akan berbicara ketika sampai pada kesuksesan, sedangkan wanita akan berbicara ketika dia mencari sesuatu. Lelaki akan diam ketika menghadapi masalah dan dia akan bicara ketika mencari solusi untuk masalah tersebut, sedangkan wanita akan berbicara ketika dia mendapatkan masalah, bukan untuk mencari solusinya, akan tetapi untuk memahami masalah tersebut. Ringkasnya, komunikasi adalah salah satu solusi untuk seorang lelaki dimana dia tidak akan berbicara kecuali ketika dia memiliki sesuatu atau ketika seorang meminta penjelasan. Adapun berbicara bagi seorang wanita adalah s...

Kerangka Berpikir Keluarga Sakinah

Keluarga Dakwah - Kerangka Berpikir Keluarga Sakinah Allah subhanahu wa ta'a berfirman, قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ “Mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)’.” (Qs. ath-Thur: 26) Penghuni surga bertanya kepada penghuni lainnya, “Bagaimana dahulu hidupnya di dunia sehingga sekarang bisa masuk surga?” Para penghuni surga saling bertanya tentang kesuksesan seseorang (masuk surga). Ini menunjukkan bahwa menyampaikan testimoni itu perlu. Ilmu akan menumbuhkan taqwa kepada Allah. Penghuni surga menjawab bahwa dahulu sebelum masuk surga, mereka dalam berkeluarga memiliki rasa: (1) takut adzab Allah, (2) takut murka Allah, (3) takut berbuat dosa, (4) takut neraka. Inti keluarga sakinah adalah takut berbuat dosa. Rasa takut ini menumbuhkan rasa qanitah (ketaatan). Jadi keluarga sakinah dibangun di atas landasan ilmu. Dengan ilmu inilah yang menimbulkan rasa takut dan melahirkan ketaatan se...