Langsung ke konten utama

Doakanlah Kebaikan Untuk Anakmu

Doakanlah Kebaikan Untuk Anakmu
Jalinan Keluarga Dakwah - Dikisahkan bahwa pada suatu dari Ummu Anas datang kepada Rasulullah SAW, setelah ia memakaikan kain kepada Anas dengan separuh kerudungnya dan memakaikan selendang dengan separuh yang lain. Ummu Anas berkata, “Wahai Rasulullah, inilah Anas kecil, anak lelalki kesayanganku, sengaja aku bawa dia datang kepadamu untuk menjadi pelayanmu, maka berdoalah kepada Allah untuknya.” Nabi Muhammad SAW pun berdoa, “Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya.”

Dan dalam riwayat lainnya, beliau berdoa, “Dan berkahilah semua pemberian yang telah engkau anugerahkan kepadanya.”

Waktu pun berjalan, tanpa terasa Anas kecil telah memasuki usia senja, dikutip dari kitab Fadhailis Shahabah beliau berkata, “Maka demi Allah, sungguh anak cucuku sekarang jumlahnya benar-benar mencapai kurang lebih seratus orang.”

Dari kisah ini kita dapat memperhatikan bagaimana Ummu Anas mempersiapkan masa depan yang baik untuk anaknya, salah satunya dengan memohon serta mendoakan kebaikan kepada Allah SWT untuk anaknya.

Memang dalam hubungan antara orang tua dan anaknya doa ternyata mempunyai kedudukan yang istimewa. Rasulullah bahkan menjamin bahwa doa orang tua terhadap anaknya pasti terkabulkan, sebagaimana sabda beliau,

ثلاث دعوات مستجابات لا شك فيهن دعوة المظلوم ودعةة المسافر ودعوة الوالد على ولده

“Ada tiga macam doa yang tidak diragukan lagi pasti diterima, yaitu doa orang yang teraniaya, doa seorang musafir, dan doa orang tua kepada anaknya.” (HR Tirmidzi)

Karena hal itu pulalah Rasulullah SAW mewanti-wanti para orang tua agar tidak mendoakan keburukan terhadap anaknya. Rasulullah SAW bersabda,

لا تدعوا على أنفسكم ولا تدعوا على أولادكم ولا تدعوا على خدمكم ولا تدعوا على أموالكم لا توافقوا من الله تبارك وتعالى ساعة نيل فيها عطاء قيستجيب لكم

“Janganlah kalian mendoakan keburukan untuk diri kalian, janganlah kalian mendoakan keburukan untuk anak-anak kalian, janganlah kalian mendoakan keburukan untuk pelayan kalian, dan jangan pula kalian mendoakan keburukan untuk harta benda kalian agar jangan sampai kalian menjumpai suatu saat yang di dalamnya Allah memberi semua permintaan kemudian mengabulkan doa kalian.” (HR Muslim)

Terkadang ketika anak melakukan sebuah kesalahan, orang tua merasa jengkel, marah, hingga mendoakan keburukan untuknya. Hal ini sangatlah berbahaya, karena bisa jadi doanya akan dikabulkan, sehingga anaknya akan semakin bertambah rusak perangainya.

Maka ketika orang tua merasa bahwa perilaku anaknya dari hari ke hari justru semakin buruk dan semakin menjengkelkan. Ada baiknya mereka muhasabah diri, pernahkah mereka mengutuk anak tersebut ketika sedang marah. Dan ketika mereka menyadari hal tersebut, sebaiknya cepat-cepat berdoa lagi kepada Allah untuk kebaikan sang anak guna menghapus doa semula yang berisi permohonan keburukan terhadapnya. Karena sejatinya tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa.

Suatu hari datang seseorang kepada Abdullah bin Mubarak mengadukan kenakalan dan kedurhakaan anaknya. Ibnul Mubarak pun bertanya, “Apakah engkau pernah mengutuknya?” Orang itu menjawab, “Iya.” Ibnul Mubarak berkata, “Engkau sendirilah yang telah membuatnya rusak.”

Dan yang terpenting adalah para orang tua pantang berputus asa dari rahmat Allah SWT misalnya dengan mengatakan, “Aku telah berdoa untuk kebaikan anakku, tetapi tidak ada hasilnya.” Seorang muslim haruslah menjadi pribadi yang senantiasa optimis dan yakin ketika berdoa, seorang muslim harus meyakini sepenuh hati bahwa Allah SWT adalah dzat yang Maha Kuasa yang mampu membolak balikkan hati dengan begitu mudahnya.

Wallahu a’lamu bisshowab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

Sebelum Menyesal Karena Salah Pilih Suami

Urusan jodoh memang urusan Allah, jika sudah ditakdirkan maka kita tak kuasa untuk mengubahnya. Tetapi sebelum kita berjodoh dengan seseorang, kita sama sekali tak tahu siapa jodoh kita. Oleh karena itu, kewajiban kita adalah ikhtiar dan berusaha mencari jodoh sebaik mungkin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, اعْمَلُوا، فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ “Beramallah kalian, karena masing-masing dimudahkan (untuk melakukan sesuatu yang telah ditakdirkan untuknya).” (HR. Muslim no. 2648) Tak sedikit kami mendengar curahan hati para wanita muslimah yang merasa menyesal telah berjodoh dengan suaminya sekarang. Ungkapannya mungkin tidak tegas, tetapi sikapnya mencerminkan hal tersebut. Lelaki yang dulu terlihat sempurna ternyata menyimpan banyak cacat. Lelaki yang dulu diharap menjadi pelindung ternyata menjadi perundung. Sebelum menyesal, teliti terlebih dahulu sebelum menikah. Minta bantuan orang lain untuk menilai dan menyelidiki lelaki yang ingin dinikahi atau lelaki yang pantas dinikahi...

Esensi Tawadhu

Jalinan Keliarga Dakwah - Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam muslim Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan martabat manusia” Hadits tersebut memberi kita dua hal yang mendeskripsikan apa yang disebut sebagai kesombongan. Ketika seseorang memiliki salah satu dari dua hal tersebut, maka dia telah menjadi pribadi yang sombong. Di mana kepribadian tersebut tidak disukai oleh Allah ta'ala. Dalam menerima apa yang diyakini sebagai kebenaran, kita seringkali terfokus pada siapa yang menyampaikan. Sebelum mendengarkan paparannya, kita terlebih dahulu melihat siapa yang berbicara, bagaimana latar belakangnya, apa gelarnya, berapa usianya, dan pertimbangan-pertimbangan subjektif lainnya yang membuat kita “yakin” kepada sang pembicara. Sikap ini tidak sepenuhnya salah, namun seringkali “keyakinan” ini menjerumuskan kita kepada sebuah fanatisme. Di mana kita pada akhirnya berkesimpulan “pokokny...