Langsung ke konten utama

Menikah Untuk Meraih Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah


Keuarga Dakwah - Sebagaimana telah kita sebutkan sebelumnya, Allah ﷻ berfirman tentang tujuan pernikahan,

﴿وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ﴾

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang. 

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)

Sakinah artinya adalah ketenangan, mawaddah artinya cinta, adapun rahmah adalah kasih sayang. Seorang suami yang bahagia adalah seorang suami yang terkumpul pada dirinya tiga perkara ini, yaitu dia tenteram bersama istrinya, ia cinta kepada istrinya, dan ia sayang kepada istrinya.

Oleh karenanya, penulis sering sampaikan bahwa kebahagiaan seorang lelaki adalah ketika ia bisa berbahagia dengan istrinya. Ketika seorang suami belum bisa berbahagia dengan istrinya, kemudian ia mencari kebahagiaan di luar rumahnya dengan cara bertemu dan berkumpul dengan kawan-kawannya, dengan mengikuti kegiatan-kegiatan yang lain di luar rumahnya, sementara ia tidak betah untuk berlama-lama dengan istrinya, sesungguhnya dia bukanlah seorang yang bahagia, bahkan kebahagiaan yang ia rasakan ketika di luar rumahnya itu adalah kebahagiaan yang palsu dan semu. Hal ini dikarenakan Allah ﷻ sendiri berfirman,

﴿هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا﴾

“Dialah (Allah) Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya.” (QS. Al-A’raf: 189)

Ayat ini sangat jelas menunjukkan bahwa kebahagiaan laki-laki sebenarnya ada pada istrinya. Maka, jika seseorang laki-laki bisa menciptakan dalam rumah tangganya rasa rindu dan betah untuk kembali kepada istrinya, maka itu pertanda bahwa ia telah bahagia. Sebaliknya, jika ketika ia berbicara sebentar saja bersama istrinya sudah mulai bosan, tidak bisa menghadirkan suasana yang menyenangkan dengan istrinya, maka kita bisa katakan bahwa ia adalah laki-laki yang menyedihkan.

Sebagaimana kaidah yang telah kita sebutkan, maka kesimpulannya adalah segala hal yang bisa mengantar seseorang kepada tujuan ini, yaitu sakinah, mawaddah, dan rahmah, semuanya disyariatkan. Oleh karena itu wahai saudaraku pembaca, lakukanlah hal-hal yang romantis kepada pasangan kalian.

Lihatlah Nabi Muhammad ﷺ, beliau mencium istrinya setiap kali hendak pergi ke masjid (Sunan Abu Daud). Bukan hanya itu, Nabi Muhammad bahkan mandi bersama dengan istrinya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Aisyah i,

كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ بَيْنِي وَبَيْنَهُ وَاحِدٍ، فَيُبَادِرُنِي حَتَّى أَقُولَ: دَعْ لِي، دَعْ لِي. قَالَتْ: وَهُمَا جُنُبَانِ

“Aku mandi bersama Rasulullah ﷺ dari satu tempayan (yang diletakan) antara kami berdua, maka Rasulullah ﷺ mendahuluiku (dalam mengambil air dari tempayan) hingga aku berkata, ‘Sisakan air buatku, sisakan air buatku’.”(HR. Muslim)

Selain itu, di antara sunnah Nabi Muhammad ﷺ adalah berbicara dengan istri sebelum tidur. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas k,

بِتُّ عِنْدَ خَالَتِي مَيْمُونَةَ، فَتَحَدَّثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ أَهْلِهِ سَاعَةً، ثُمَّ رَقَدَ

Suatu ketika aku bermalam di rumah bibiku Maimunah, aku mendengar Rasulullah ﷺ berbincang-bincang bersama istrinya sesaat. Kemudian beliau tidur.”(HR. Bukhari)

Di antara sunnah Nabi Muhammad ﷺ yang lain adalah berkhidmah kepada istrinya, beliau senantiasa membantu kegiatan-kegiatan istrinya di rumahnya.(HR. Bukhari) Tidak hanya itu, Nabi Muhammad ﷺ bahkan menegakkan lututnya dan menjadikan pahanya sebagai pijakan kaki bagi istrinya Shafiyah i yang hendak naik ke untanya.(HR. Bukhari) Selain itu, Nabi Muhammad ﷺ juga bersikap lembut dengan istri, seperti memanggilnya dengan nama yang terindah dan yang menyenangkan hati istrinya yaitu ‘Aisy(HR. Bukhari) dan Humaira(Sunan al-Kubra Li an-Nasai).

Di antara sikap Nabi Muhammad ﷺ yang lain adalah beliau bersabar dengan sikap istrinya. Dalam banyak hadits disebutkan bagaimana istri-istri beliau terkadang mengangkat suara di hadapan beliau, namun beliau sabar menghadapi istrinya. Beliau ﷺ tidak dengan arogan menghadapi istri-istrinya, tapi beliau bersikap yang terbaik. Oleh karenanya Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda,

اِسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ

“Berwasiatlah untuk (berbuat baik kepada) para wanita, karena sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk dan yang paling bengkok dari bagian tulang rusuk adalah bagian atasnya. Jika engkau ingin meluruskan tulang rusuk tersebut maka engkau akan mematahkannya, dan jika engkau membiarkannya maka ia akan tetap bengkok, maka berwasiatlah untuk para wanita.”(HR. Bukhari)

Ini adalah isyarat dari Nabi Muhammad ﷺ agar para suami hendaknya memberi uzur kepada istri jika mereka melakukan kesalahan, karena yang namanya wanita memang seperti itu, tidak bisa sempurna, pasti akan ada kesalahan-kesalahan.

Jadi, banyak hal yang bisa kita lakukan agar menciptakan keharmonisan dan keromantisan dalam hubungan kita dengan pasangan kita. Kita bisa meniru segala apa yang Nabi Muhammad ﷺ contohkan kepada kita, bahkan kita bisa berkreasi dengan berbagai sikap kepada pasangan kita untuk menciptakan keharmonisan tersebut, selama hal tersebut tidak melanggar syariat. Maka, segala hal yang bisa menumbuhkan cinta kasih antara seorang suami dan istri, maka hal itu disyariatkan dan akan berpahala di sisi Allah ﷻ. (Firanda / Keluaraga Dakwah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

Sebelum Menyesal Karena Salah Pilih Suami

Urusan jodoh memang urusan Allah, jika sudah ditakdirkan maka kita tak kuasa untuk mengubahnya. Tetapi sebelum kita berjodoh dengan seseorang, kita sama sekali tak tahu siapa jodoh kita. Oleh karena itu, kewajiban kita adalah ikhtiar dan berusaha mencari jodoh sebaik mungkin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, اعْمَلُوا، فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ “Beramallah kalian, karena masing-masing dimudahkan (untuk melakukan sesuatu yang telah ditakdirkan untuknya).” (HR. Muslim no. 2648) Tak sedikit kami mendengar curahan hati para wanita muslimah yang merasa menyesal telah berjodoh dengan suaminya sekarang. Ungkapannya mungkin tidak tegas, tetapi sikapnya mencerminkan hal tersebut. Lelaki yang dulu terlihat sempurna ternyata menyimpan banyak cacat. Lelaki yang dulu diharap menjadi pelindung ternyata menjadi perundung. Sebelum menyesal, teliti terlebih dahulu sebelum menikah. Minta bantuan orang lain untuk menilai dan menyelidiki lelaki yang ingin dinikahi atau lelaki yang pantas dinikahi...

Esensi Tawadhu

Jalinan Keliarga Dakwah - Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam muslim Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan martabat manusia” Hadits tersebut memberi kita dua hal yang mendeskripsikan apa yang disebut sebagai kesombongan. Ketika seseorang memiliki salah satu dari dua hal tersebut, maka dia telah menjadi pribadi yang sombong. Di mana kepribadian tersebut tidak disukai oleh Allah ta'ala. Dalam menerima apa yang diyakini sebagai kebenaran, kita seringkali terfokus pada siapa yang menyampaikan. Sebelum mendengarkan paparannya, kita terlebih dahulu melihat siapa yang berbicara, bagaimana latar belakangnya, apa gelarnya, berapa usianya, dan pertimbangan-pertimbangan subjektif lainnya yang membuat kita “yakin” kepada sang pembicara. Sikap ini tidak sepenuhnya salah, namun seringkali “keyakinan” ini menjerumuskan kita kepada sebuah fanatisme. Di mana kita pada akhirnya berkesimpulan “pokokny...