Langsung ke konten utama

Nasehat Untuk Pemuda yang Ingin Menikah 2

Nasehat Untuk Pemuda yang Ingin Menikah 2
Jalinan Keluarga Dakwah - Wahai para pemuda yang terhormat, janganlah kalian memperbanyak pelanggaran terhadap perkara-perkara syariat. Bagaimana bisa kamu berharap pernikahanmu akan bahagia apabila sejak awal kamu sudah melanggar perintah Allah SWT.

Selanjutnya kami akan menyampaikan tentang pesta pernikahan. Sebagaimana kita tahu, bahwa kebanyakan orang melakukan pelanggaran syariat dalam menyelenggarakan pesta pernikahan. Semisal ikhtilath atau tidak adanya pemisahan ruang antara tamu pria dan wanita, tarian penari wanita di hadapan pria atau sebaliknya, dan pesta yang dipenuhi senandung nyanyian yang diharamkan.

Maka dari itu, jauhilah nyanyian-nyanyian yang penuh dengan omong kosong dan kata-kata gombal. Pilihlah dengan selektif nasyid-nasyid yang berisi pesan-pesan ketaatan, bukan kesyirikan.

Dan hendaklah kamu menempatkan tamu wanita di satu tempat, tamu pria di satu tempat, di mana jarak antar kedua tempat tersebut cukup jauh. Dan jika kamu bisa memberi sekat atau pembatas antara dua tempat tersebut, maka hal itu lebih dianjurkan.

Dan hargailah tetanggamu, terutama jika ada di antara mereka yang sakit. Jangan sampai pesta pernikahanmu mengganggu kenyamanan mereka. Dan hindarilah riya, takabbur serta berharap pujian. Jadilah orang yang tawadhu, penuh senyum dan cukupkan dengan bicara yang baik-baik.

Tersenyumlah kepada istrimu, kepada kedua orang tuamu, kepada keluarga istrimu, kepada seluruh tamu yang turut berbahagia untukmu. Mulaikanlah para tamu sebaik mungkin, namun jangan membebani dirimu dengan menyelengarakan pesta melebihi kemampuan finansialmu.

Karena jika kamu terlalu miskin untuk menyelengarakan pesta, maka hal itu bukan menjadi soal. Asalkan istrimu setuju, tak perlu kalian menyelenggarakan pesta. Karena inti pernikahan bukanlah pesta, melainkan rasa kesepahaman dan kecintaan antara kalian berdua serta ketaatan kepada Allah SWT.

Dan jangan pernah sekali-kali berbohong kepada istrimu walaupun bercanda. Cobalah kamu bayangkan, Istrimu telah meninggalkan orang tuanya, saudara-sauadaranya dan orang-orang terdekatnya untuk hidup bersamamamu. Bagaimana kamu tega membohonginya?

Dan ketika kamu mendapati istrimu menjadi penyemangat kamu untuk taat kepada Allah SWT, maka jangan lupa untuk senantiasa bersyukur kepad Allah SWT, perbanyaklah istighfar, dan bershalawat atas Nabi dan berdoalah kepada Allah SWT agar dikaruniai keturunan yang shalih dan shalihah.

Wahai para pemuda yang terhormat, ketahuilah ketika kamu berhasil membahagiakan istrimu serta mendidik anak-anakmu, maka kan mudah bagimu mengatasi masalah-masalah di luar rumah tangga.

Wahai para pemuda yang terhormat, ketahuilah, meskipun kamu telah mencapai pucak kesuksesan dan bergelimang harta namun keluargamu tidak bahagia maka sejatinya kamu adalah orang paling merana di dunia ini. Namun apabila kamu berhasil membahagiakan keluargamu meskipun kamu tak mempunyai banyak harta, maka kamulah orang yang paling berbahagia di dunia ini.

Wallahu a’lamu bisshawab  

Disadur dari : Artikel “نصائح مهمة للشاب المقبل على الحياة الزوجية” oleh Boubakar Firdauz (alukah.net)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Sulit Jodoh? Ternyata Tiga Poin Ini Ditinggalkan

Keluarga Dakwah - Tidak dipungkiri bahwa keadaan masing-masing wanita bisa berbeda dalam masalah jodoh. Ada yang belum juga menginjak usia 20 tahun tapi sudah menikah, ada yang tak lama lulus kuliah kemudian dilamar oleh seorang pemuda, namun ada pula yang hingga kepala 3 tak kunjung datang jodoh yang dinanti. Tentu masalah tersebut tidak lepas dari takdir dan ketetapan Allah. Namun beberapa hal boleh jadi menjadi penyebab mengapa sebagian wanita di zaman sekarang susah jodoh, diantaranya karena ada beberapa poin penting yang ditinggalkan. Pada tulisan ringkas ini, kami bawakan tiga poin yang banyak ditinggalkan di zaman ini. Pertama, menyegerakan menikah Bersegera menikah adalah perintah Nabi bagi para lelaki yang telah mampu lahir dan batin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka men...

Sebelum Menyesal Karena Salah Pilih Suami

Urusan jodoh memang urusan Allah, jika sudah ditakdirkan maka kita tak kuasa untuk mengubahnya. Tetapi sebelum kita berjodoh dengan seseorang, kita sama sekali tak tahu siapa jodoh kita. Oleh karena itu, kewajiban kita adalah ikhtiar dan berusaha mencari jodoh sebaik mungkin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, اعْمَلُوا، فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ “Beramallah kalian, karena masing-masing dimudahkan (untuk melakukan sesuatu yang telah ditakdirkan untuknya).” (HR. Muslim no. 2648) Tak sedikit kami mendengar curahan hati para wanita muslimah yang merasa menyesal telah berjodoh dengan suaminya sekarang. Ungkapannya mungkin tidak tegas, tetapi sikapnya mencerminkan hal tersebut. Lelaki yang dulu terlihat sempurna ternyata menyimpan banyak cacat. Lelaki yang dulu diharap menjadi pelindung ternyata menjadi perundung. Sebelum menyesal, teliti terlebih dahulu sebelum menikah. Minta bantuan orang lain untuk menilai dan menyelidiki lelaki yang ingin dinikahi atau lelaki yang pantas dinikahi...

Esensi Tawadhu

Jalinan Keliarga Dakwah - Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam muslim Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan martabat manusia” Hadits tersebut memberi kita dua hal yang mendeskripsikan apa yang disebut sebagai kesombongan. Ketika seseorang memiliki salah satu dari dua hal tersebut, maka dia telah menjadi pribadi yang sombong. Di mana kepribadian tersebut tidak disukai oleh Allah ta'ala. Dalam menerima apa yang diyakini sebagai kebenaran, kita seringkali terfokus pada siapa yang menyampaikan. Sebelum mendengarkan paparannya, kita terlebih dahulu melihat siapa yang berbicara, bagaimana latar belakangnya, apa gelarnya, berapa usianya, dan pertimbangan-pertimbangan subjektif lainnya yang membuat kita “yakin” kepada sang pembicara. Sikap ini tidak sepenuhnya salah, namun seringkali “keyakinan” ini menjerumuskan kita kepada sebuah fanatisme. Di mana kita pada akhirnya berkesimpulan “pokokny...